Rosim Nyerupa : Senjaka Apa Yang Membuat Kita Baper ?

Rosim Nyerupa : Senjaka Apa Yang Membuat Kita Baper ?Keterangan Foto : Rosim Nyerupa, S.IP Bersama Brigjend Pol. (P) Drs. Edward Syah Pernong, SH. MH (Kapolda Lampung 2015) dan Irjen. Pol. Drs. Adnas, M.Si. (Wakapolda Sulawesi Selatan 2018). Momentum Foto saat di Kota Makassar.

SKALABRAKNEWS.COM LAMTENG : Sahabat Budiman, Kita berdoa semoga Allah SWT selalu memberikan kemudahan dalam setiap urusan kita. Yakinlah bahwa Allah akan memberikan kesempatan untuk kita pada masanya tiba untuk dapat berbuat lebih terhadap keluarga, saudara, kerabat, sahabat dan masyarakat yang harus kita angkat derajatnya.

_______
Senjakala Apa Yang Membuat Kita Baper Selama Ini ? The Invisible Hand.

Beda kepala, beda perangainya. Pola fikir, pola sikap dan pola tindak yang beragam. Sebagai manusia yang menyadari bahwa dinamika sosial dalam hubungan perkawanan yang terjadi selagi tidak menyangkut hal yang bersifat prinsipil tidak menjadi alasan gugurnya hubungan kemanusiaan, Bahkan menyangkut hal yang bersifat prinsipil sekalipun interaksi sosial kita tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Saya fikir, Disinilah ujian kesabaran dan keikhlasan kita berlangsung. Sampai batas mana nilai kesabaran dan keikhlasan sebagai seorang hamba yang senantiasa belajar untuk menjadi pribadi yang berjiwa besar. Ikhlas, sabar dan berjiwa besar merupakan syarat mutlak manusia hidup sebagai makhluk sosial yang hidup dan tumbuhnya dalam menjalankan hubungan yang saling membutuhkan antara satu sama lain (Hablumminannas).

Dalam hubungan pertemanan pasti saling mengajak dan mengajarkan antara haq dan bathil diantara sesama teman. Keduanya tidak dapat dicampuradukkan, Nilai-nilai kebaikan yang menjadi akar perkawanan tersebut sebagaimana termaktub dalam QS. 49:13 yang menyiratkan makna egaliter (equal), QS. 49:10 yang mengandung makna persaudaraan (brotherhood) dan tolong- menolong dalam kebaikan dalam QS 5:2. Ikhlas, sabar dan berjiwa besar adalah nilai kebaikan manusia yang memanusiakan manusia menuju manusia yang paripurna.

Baca Juga :  Curi Motor di Pugung Uus Berhasil Ditangkap Tekab 308 Polres Tanggamus

Setiap manusia dimasa mudanya berpotensi melakukan penyimpangan sosial dan hal itu suatu lumrah jika dicermati. Apapun bentuk penyimpangan sosial yang dilakukan seseorang, Kita tidak dapat menjustifikasi buruk karena ia telah melakukan penyimpangan tersebut lalu kemudian membencinya. Perlu menjadi catatan, setiap manusia memiliki dua ruang kehidupan yaitu ruang publik dan wilayah privasi masing-masing.

Sebagai makhluk yang beragama, Islam tidak mengajarkan kita untuk membenci satu sama lain. Sebagaimana terkandung dalam QS. Al Baqarah : 216) yang artinya menyebutkan bahwa “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Pada dasarnya memang sesungguhnya sesama muslim itu bersaudara. “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al Hujarat : 10). Sebagai umat muslim, tugas kita adalah mengimplementasikannya dalam bermasyarakat untuk saling menjalin dan menjaga silaturahmi, saling merekatkan satu sama lain bahkan hubungan yang terjalin dalam sebuah perkawanan dapat menjadi hubungan persahabatan dan sangking baiknya interaksi dapat direkatkan menjadi sebuah hubungan kekeluargaan. Sehingga rasa saling memiliki antara satu sama lain dapat terjalin, Dengan itu akan tumbuh yang namanya saling menjaga baik menjaga hati maupun menjaga sikap.

Baca Juga :  Tangkal Penyebaran Covid-19, Forum Muli Mekhanai Bagikan Ribuan Masker Gratis di Lampung Tengah

Nilai-nilai Keislaman tersebut jika dilihat dari sudut pandang cultural, Sebagai Ulun Lampung, Nenek moyang kita telah mewariskan falsafah hidup yang menjadi pondasi diri dalam bermasyarakat yang disebut dengan Fiil Pusenggiri.

Didalam Fiil Pusenggiri terdapat nilai Sakai Sambayan yang mengandung makna The Principle Of Collaboration (Prinsip kerjasama), Nemui Nyimah yang mengandung The Principle Of Appreciation (Prinsip Penghargaan), Nengah Nyapur yang memiliki makna The Principle Of Equality (Prinsip Persamaan) dan Bejuluq Buadeq yang mengandung makna The Principle Of Achievement (Prinsip penghargaan dan keberhasilan) serta terdapat Adat Muwakhi yang dapat kita sibak implementasikan dalam hubungan kita.

Prinsip-prinsip tersebut yang kemudian menjadi pondasi dasar yang musti diimplementasikan dalam interaksi perkawanan, Sehingga persaudaraan tanpa syarat dapat diwujudkan dengan baik. Terkadang memang seringkali kita dihadapkan dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan begitupun sebaliknya. Seperti halnya bermain sosial media seperti Instagram.

Saat memposting video atau gambar, Kita tidak dapat memaksa followers menyukai postingan kita, Banyak atau tidaknya like dalam postingan tergantung kesukaan teman dalam Instagram kita. Begitu juga dengan hidup, Kita tidak bisa memaksakan kehendak agar orang lain seperti apa yang ada di hati kita.

Tugas kita hanyalah bagaimana berupaya memberikan hal yang terbaik kepada mereka dalam hubungan interaksi yang telah dibangun, Setelah itu biarkan dalam keberjalanannya ujian pertemanan terjadi, Disitulah nanti akan teruji mampukah kita saling mengisi dan bertahan ?.

Jangan pernah menyesal mengenal siapapun, Karena seburuk-buruknya manusia pasti ada guna dan mungkin ada manfaatnya buat kita. Sang pencipta maha tahu dan maha adil, Teruslah jadi pribadi yang senantiasa menebar kebaikan. Karena disaat kita menabur benih kebaikan, Maka kita akan menuai peradaban yang baik juga sebagai buah yang kelak pasti akan kita panen dikemudian hari.

Baca Juga :  Kaum Milineal Dukung Zaiful-Dibyo

Jangan pernah takut dikhianati, jangan pernah takut dimanipulasi dan jangan pernah takut disingkirkan karena jika hati tulus dalam bersoal kebaikan akan menyertaimu selalu. Sebab pengkhianat tidak akan ada tempat dimanapun ia berada pasti akan menjadi pengkhianat.

Sebalakkan, Seandanan, Dang Secadangan. Kalimat yang terkadang maknanya tidak kita petik, Padahal mengandung makna yang berarti, salah satu diantaranya adalah saling membesarkan, saling merawat dan saling menguatkan. Hal itulah yang digaungkan tokoh yang akrab kita sapa Pun Edward Syah Pernong.

Tetap untuk solid dan kompak, Mengutip pesan Kanjeng Andi Achmad Sampurna Jaya, Kebersamaan merupakan kekuatan. Jika kita bersama maka kita akan kuat, Tidak akan ada yang bisa menghancurkan jika kita kuat. Istilahnya saya, Seperti sirup, Walau setetes mampu mewarnai segelas air.

Tulisan ini hanya sekedar ampas malam hari menjelang tidur pasca aktivitas diawal pekan, Ternyata Ketulusan kita sedang diuji.

Semoga kita senantiasa istiqomah dalam menjalankan hidup sebagai manusia yang aib-nya masih ditutup oleh ALLAH SWT, manusia lemah dan banyak kekurangan.

Kita berdoa, Semua Allah SWT selalu memberikan kemudahan dalam setiap urusan kita. Yakinlah bahwa Allah akan memberikan kesempatan untuk kita pada masanya tiba untuk dapat berbuat lebih terhadap keluarga, saudara, kerabat, sahabat dan masyarakat yang harus kita angkat derajatnya.(*)

Comment here