Nasionalisme dan Patriotisme Putera Mahkota Sekala Brak

Pangeran Alprinse Syah Pernong bersama ayah/akannya Pangeran Edward Syah Pernong menabur bunga dimakambuyut Tuyuk Dalom Pangeran Suhaimi kemudian makam Kakek Tamong Dalom Pangeran Maulana Balyan, Tamong Dalom A. Muis dan Tamong Batin Moh Bunyamin, Usai me

Bandarlampung : Momentum hari pahlawan menjadi moment bersejarah bagi masyarakat untuk mengenang jasa para pejuang kemerdekaan.

Peristiwa yang diperingati setiap tahun ini menjadi kebiasaan bagi masyarakat di Indonesia. Tentunya selain sebagai bentuk penghargaan negara juga untuk mengenang perjuangan para pahlawan. Disamping itu sebagai sarana edukasi yang dapat membuka fikiran anak-anak bangsa dengan mempertegas bahwa bangsa ini lahir atas kegigihan dan kerja keras segenap masyarakat khususnya para pahlawan yang rela mempertaruhkan nyawa melawan kebiadaban penjajah hingga kemerdekaan dicapai bukan diraih tanpa usaha dan kerja keras.

Ketika doktrin semangat kepahlawanan terbangun maka anak-anak bangsa akan menyadari bahwa perjuangan bangsa tidak berakhir ditangan para pahlawan saja. Namun perjuangan mau tidak mau, suka tidak suka harus dilanjutkan oleh anak bangsa dengan cara yang berbeda. Jika para pejuang terdahulu berjuang dengan menggunakan bambu runcing sebagai senjatanya, Maka perjuangan anak bangsa hari ini menggunakan akal dan fikiran sebagai senjata ditengah negara Indonesia yang telah berada dipusaran globalisasi.

Ketika kesadaran terbangun sejak dini, Maka anak-anak bangsa akan menjiwai nilai-nilai kebangsaan baik patriotisme maupun nasionalisme sebagai pondasi dalam pembangunan bangsa, Dengan kata lain mereka sadar bahwa bangsa hari ini kedepan adalah milik mereka yang harus dirawat dan dijaga. Sebab, Perjuangan dimasa lalu dan masa kini jelas berbeda, Hal tersebut secara gmblang telah ditegaskan oleh Ir. Soekarno sebagai presiden pertama, Bapak sekaligus founding father bangsa. Beliau mengatakan bahwa Perjuangan mereka lebih mudah karena melawan penjajah. Sementara perjuangan kita lebih susah karena melawan bangsa sendiri.

Nilai patriotisme dan nasionalisme dipandang sangat penting, Apalagi ditengah kondisi bangsa yang semakin pelik, Isu SARA yang mulai mengudara dan Tekhnologi semakin tinggi. Maka penanaman nilai-nilai tersebut sedari dini bagi anak-anak bangsa merupakan sebuah keharusan yang bersifat mutlak.

Baca Juga :  RIDHO - BACHTIAR KEMBALI MENJABAT GUBERNUR WAKIL GUBERNUR LAMPUNG

Keterlibatan dalam proses pembentukan karakter anak-anak bangsa, Selain dipengaruhi oleh orang tua didalam keluarga juga ditentukan oleh pendidik dimana tempat anak-anak bangsa mengenyam bangku pendidikan serta lingkungan tempat dimana mereka berinteraksi sebagai variabal eksternal.

Kesadaran tersebut tentunya mendorong anak-anak bangsa seperti Pangeran Alprinse Syah Pernong, Putra mahkota kerajaan adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong Lampung yang lahir diabad millenium. Dalam teori generasi (Generation Theory) yang dibeberkan oleh Graeme Codrington & Sue Grant-Marshall, Penguin, (2004) membedakan 5 generasi manusia berdasarkan tahun kelahirannya. Kelima generasi tersebut yakni Generasi Baby Boomer (1946-1964), Generasi X (1965-1980), Generasi Y (1981-1994) sering disebut generasi millennial, Generasi Z (1995-2010) disebut juga iGeneration, GenerasiNet, Generasi Internet dan Generasi Alpha (2011-2025). Kelima generasi tersebut memiliki perbedaan pertumbuhkembangan kepribadian. Jika dilihat dari perbedaan berdasarkan tahun kelahiran tersebut, Maka generasi putera tunggal dari pasangan Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke 23 dan Ratu Mas Inton Dalom Ratu Paksi Buay Pernong masuk kedalam generasi Z. Lahir ditengah perkembangan dunia maya (internet) yang semakin maju pesat. Kecanggihan-kecanggihan dunia internet mendorong Pangeran Alprinse Syah Pernong segenerasinya untuk dapat menyesuaikan dan menguasai kemajuan tersebut dan diharapkan mampu memberikan manfaat baik bagi perkembangan kepribadian (pola fikir, polda sikap dan pola tindak) serta dalam menunjang kehidupan sosial.

Seperti pepatah mengatakan, Usia tidak menjadi sebuah patokan dalam mengukur tingkat kedewasaan seseorang. Begitu kira-kira argumentasi yang hampir mendekati dari sosok anak yang masih menginjak bangku kelas 6 sekolah dasar ini. Bagaimana tidak ? Lihat saja bagaimana putera tunggal Saibatin Kepaksian Pernong ini dalam menyampaikan pendapat baik saat diwawancara awak media dalam kegiatan peradatan maupun secara langsung dimuka umum. Menghentakkan fikiran saya yang mengundang banyak pertanyaan saat duduk dibarisan paling belakang dalam sebuah sarasehan yang berlangsung dini hari usai kegiatan kirab budaya di Sumenep yang tak lama ini. Sarasehan Pangeran Edward Syah Pernong bersama 300 pasukan kerajaan yang hadir dalam kegiatan Festival Keraton dan Masyarakat Adat Asean V merupakan kebiasaan yang lama memberikan arahan baik evaluasi maupun proyeksi usai melaksnakan kegiatan. Ada yang unik, Ketika putera mahkotanya diberikan waktu untuk menyampaikan pesan kepada pasukan yang dipimpin akan/ayahnya. Sebagaimana dilansir oleh harian umum terpopuler di Lampung dengan tajuk ketika putera mahkota sekala brak bicara NKRI. Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar pukul 23.00 hingga pukul 24.00 ini, Pangeran Alprinse Syah Pernong mengajak seluruh punggawa kerajaan yang terdiri dari para bangsawan tinggi, panglima, bahatur, para hulu balang dan seluruh abdi kerajaan untuk berkomitmen dalam ikut menjaga keutuhan NKRI. “Kita semua harus cinta NKRI, kita harus berkomitmen menjaga persatuan dan kesatuan. Kita berbeda -beda tapi tetap satu jua,” singkat Pangeran saat menyapa lebih dari 300 punggawa kerajaan yang bermalam di islamic center Bindara Saod Sumenep. Belum lagi ketika dikehadapan para sultan senusantara di Istana Maimun, Medan beberapa bulan yang lalu dalam rangka menghadiri hari jadi istana kesultanan deli tersebut. Pangeran Alprinse diminta oleh tuan rumah untuk mewakili ayahandanya menyampaikan sambutan. Dalam forum tersebut, Pangeran Alprinse juga dengan PeDe berpidato yang diakhiri dengan memberikan selempang kepada tuan rumah dan ketua FSKN. Dalam sambutannya, Pangeran Alprinse mengajak tamu yang hadir untuk memanfaatkan kemajuan internet sebagai wadah pengenalan kekayaan kebudayaan dinusantara. Ia berpandangan bahwa diera digitalisasi saat ini generasi muda khususnya para penerus keraton-keraton yang ada harus mampu mengusai tekhnolog khususnya dunia internet semakin maju. Disamping itu, layaknya orang dewasa dalam berpidato, Pangeran Alprinse mengucapkan terimakasih kepada tuan rumah atas undangan dan kesempatan yang diberikan kepadanya yang disambut dengan riak tepuk tangan tamu yang hadir. Dengan kelicahan dan pemikiran cerdasnya tersebut, Tidak heran jika sosok yang saat syukuran kelahirannya di Batu Brak 19 Mei 2008 silam dilakukan dalam prosesi adat besar ini saat hadir dalam acara-acara menjadi sorotan publik hanya untuk mengabadikan moment bersamanya.

Baca Juga :  Gubernur Ridho Ficardo Bangun Komplek Observatorium Terbesar di Asia Tenggara.

Singkat jelas dan padat, khayalnya sebuah pesan kilat yang penuh makna dan nilai terungkap. Tidak masuk dilogika jika difikirkan, Anak yang belum memasuki ketegori pemuda ini sudah punya pemikiran kebangsaan. Tentunya ini merupakan buah dari didikan seorang akan/ayah nya, Pangeran Edward Syah Pernong yang dikenal sebagai sosok bapak bangsa di tanah Lampung dalam mewariskan nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme kepada puteranya tersebut. Disamping itu juga guru dimana tempatnya mengenyam bangku pendidikan dan lingkungan interaksinya menjadi fakor dalam proses pembentukan karakter sosok Pangeran Alprinse.

Momentum hari pahlawan yang telah diperingati 10 November 2018 kemarin masih menyisakan memori dalam ingatan anak Lampung yang mahir berbahasa asing tersebut. Ketika moment bersama ayah/akannya saat menjabat sebagai Kapolda Lampung, Usai melaksanakan upacara, Pangeran Alprinse sempat menaburkan bunga didampingi ayah/akannya Pangeran Edward Syah Pernong dimakam tuyuk dalomnya, Pangeran Suhaimi kemudian makam kakeknya Tamong dalom Pangeran Maulana Balyan, Tamong dalom A. Muis dan Tamong batin Moh. Bunyamin serta keluarga besar lainnya seperti Tuyuk batin Barlian pada tahun 2015 lalu.

Baca Juga :  Ridho Ficardo Sambut Kedatangan SBY di Lampung

Sebagai seorang anak yang mengabdi kepada orang tuanya, Pangeran Alprinse tentunya menyadari betul bahwa tugas tanggung jawabnya kedepan begitu besar. Selain kelak akan menyandang sebuah profesi tertentu ia juga akan menyandang status sebagai saibatin/raja penerus sang ayah kelak sebagai pemimpin adat di kerajaan adat paksi pak sekala brak kepaksian pernong. Memimpin masyarakat adat dieranya nanti tentulah tidak mudah, Apalagi diera globalisasi yang semakin maju dari kondisi hari ini, Maka tidak menutup kemungkinan akan banyak dinamika dan problematika yang harus dihadapi, Memang itulah disetiap era kepemimpinan sedari dulu kala dengan kondisi dan dinamika yang beragam. Bisa kita katakan demikian, Sosok yang bersyukur lahir dari darah keturunan sultan ini terlihat begitu ulet dan serius bahkan dirinya bercita-cita ingin menjadi seorang anggota TNI. Saat saya tanyakan kepadanya, Mengapa pangeran ingin menjadi TNI ?, Dengan simple ia menjawab, Karena TNI membela dan mempertahankan negara. Jika diuraikan alasan tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan anak ini terbilang luas, Nilai nasionalisme dan patriotisme menjiwai dalam sanubarinya.

Rosim Nyerupa – Penulis

Comment here