MEMPERTAHANKAN MARWAH GEDUNG DALOM

foto novan saliwa

SKALABRAKNEWS.COM : JAKARTA : LEHOT SAI BATIN PYM SPDB Pangeran Edward SYah Pernong adok Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke XXII.
_( Jakarta, 20 Syawal 1439 H / 4 Juli 2018)_

“ Jangan Membangun Istana Pasir, Pertahankan Kayu Hemulu Yang Selama Ini Sebagai  Tihang Yang Mempertahankan Kekokohan Gedung Dalom Kepaksian Pernong ”

_Assalamualaikum warahmatullah hiwabarakatuh_ nbsp;

..“jangan pernah tinggalkan kapalmu “.. ( Jenderal TNI Benny Moerdani )

Saudara – saudaraku, kerabat handai taulan.

Kita punya kapal besar yang sudah menorehkan sejarah panjang, berisi  nilai kepahlawanan, keberanian, kekesatriaan, persatuan, tali kekerabata, keutuhan  dan kebanggaan,  namun begitu dengan penuh kesadaran berupa ketawadhuan, sebagai wujud kesadaran akan fitrah sebagai hamba ALLAH yang penuh dengan ketidaksempurnaan, maka hanya dengan izin dan perkenan-Nya, telah dapat berdiri tegak, *mesunakh kidang mak nenggakhah* , menjaga amanah zaman dari generasi ke generasi… itulah *GEDUNG DALOM* .

Tanno lamon nihhan hal-hal kik menurut tiyan-tiyan tumbai sebagai pengibaratan, nunjuk keberadaan atau kekhiloh atau pun cakha dalih laku, sai ni istilahko tiyan unjuk : “ *Sai Inton Tetop Inton*
*Inton Dilom Litak Tetop Inton*
*Kaci Besikil Dinar Tetop Kaci*
*Kalang Tekhok Kehennak*
*Jarak Hendak Menjadi Jati* “

_Minak muakhiku saunyinni_ _Kham jo lain unjuk khuppok sai appai tanno nyani sani sejarah, ngaku-ngaku, nanjakh tanjakhko dikhi, nyesesani atau ngarang-ngarang guggoh katak ngedup ko badan, unjuk *pak sauwang* sai ngekhawot ngekhattut, nyesesani  khik bakhihna, sai unjuk cendawan muncul dimusim hujan, sejarah jo lain haga bercerita dongeng kidang berbicara fakta kiprah dari zaman ke zaman, zaman kham tanno khepa, zaman ayah khepa, zaman tamong khepa, zaman tuyuk khepa tekhus mit diatasna lagi, lain nyesesani kebalakan,_ kidang khadulah, bukan urusan kita hidup dalam khayalan, mereka hendak memuaskan dirinya membangun istana pasir, silahkan menggantang asap, menikmati Bangsawan Tonil, mari kita ikut menonton sandiwaranya dan minimal bisa menggembirakan hati kita, kita bisa tertawa dengan sehat, kita bisa _telegai telegai_ , tapi yang penting jangan pernah kita benci dan jangan diejek, biarlah semua menikmati zona comfortnya, kita tidak usah capek ngurus urusan orang, urusan kita masih banyak yang mempunyai nilai  maslahat,  kita punya obor besar, kita dianugerahi sinar cahaya penerang ratusan tahun, nikmat dari ALLAH kepada kita se- Kepaksian Pernong, serta para kerabat yang keluar dari Kepaksian Pernong dan yang diangkon muakhi oleh Kepaksian Pernong  Sekala Bekhak, yang alhamdulillah dengan ridho dan perkenan-Nya, _khadu khatusan tahun kham muncul_ memberi manfaat, memberikan kontribusi  besar lawon masyarakat,  dalam setiap generasi bergaung berdetam sebagai karunia pemberian ALLAH SWT, dan itu semua bukanlah karena kehebatan atau kecerdasan kita, tapi semata-mata karena izin dan pertolongan ALLAH SWT, karena itu camkanlah !!! , jangan kufur terhadap nikmat ALLAH yang diberikan kepada kita, satu kapal besar yang selalu kita mohonkan kepada Illahi Robbi Wa Kafa Billahi Syahida agar kapal besar ini selalu terjaga, terlindungi dan selamat sampai di hari yg paling kemudian, dalam pentas republik kita yang tercinta.

Baca Juga :  Politik Identitas dan Resesi Demokrasi

Maka karena  kasih sayang ALLAH lah sehingga kita terlindungi dan bisa terhindar dari huru hara zaman, sehingga isi Gedung Dalom yang bertabur sebagai permata yang pecah, sebagai ratna mutu manikam penghias persada nusantara, dan menyiram bumi nusantara denga darah keringat dan air mata, jasad- jasad yang terbaring tenang sebagai kusuma bangsa di makam pahlawan Jakarta , Lampung , Sumatera Selatan, dengan izin dan perlindungan ALLAH SWT tidak terkontaminasi dan tidak tercemar heroismenya, dengan penghianatan terhadap negara, disaat orang lain justru tidak tahan menghadapi godaan dan syahwat kekuasaan serta harta benda keduniawian, sehingga terjebak dalam penghianatan, terkontaminasi dalam pengabdian.

Inilah hikmah yang selalu harus dicamkan, bahwa semua akan menjadi ambruk, hancur dan *bekhok* apabila ada penghianatan, maka hanya kesetiaanlah yang bisa menyelamatkan kita, ALLAH telah lebih dari cukup memberikan semua anugerah kepada kita di Gedung Dalom ini, inilah istana adat kita, tempat asal kita, walau sudah bermetamorphosa tapi ini asal usul kebesaran kita, sehingga bagi yang merasa berkeluaran dari kapal besar ini, baik lebu, kelama, anjak asal maupun akkon-akkon kemuakhian,  sebagai tempat kita bersama, tempat kita berdiri,  tempat kita ber interaksi, tempat kita tersublimasi, tempat kita menyamankan diri, kita jaga dan kita bersatu, kita cintai dan kita syukuri sebagai anugerah untuk kita semua, dan kita memohon  kepada ALLAH yang maha penjamin agar kita utuh, ratusan ribu hambanya yang menyatu dibawah payung maupun bayang-bayang Gedung Dalom ini, oleh sebab itu wajiblah kita jaga dan kita semua pertahankan agar Gedung Dalom ini tetap exist, agar tetap istiqomah, solid, menyatu didalamnya sampai di hari yang paling kemudian.

Baca Juga :  Artis Sarah Saputri Dapat Dukungan Mbak Tutut Untuk Melestarikan Harmonika

Jadi tak usahlah ada yang lompat kesana kemari, tak usah ngarang ngarang lagi, apalagi buat kapal kapal kecil yang diharapkan akan seperti kapal besar kita ini, apalagi dengan mengarang-ngarang kemudian memecah belah kebanggaan dan kesolidan dalam Gedung Dalom, jangan !, Tidak Usah !. 
Kita semua sama sama memiliki kapal besar ini, jaga, urus, perhatikan, timbulkan rasa dan karsa serta jiwa korsa untuk saling memiliki, karena kapal besar ini sudah meretas berlayar menghadapi ombak, badai, angin topan, puting beliung, tapi tetap bisa bertahan karena rasa memiliki dari semua yang ada didalamnya maupun yang pernah berasal dari padanya, kita masih tetap berjalan dan harus berjalan, untuk masa depan kerabat dan  generasi yang terkait dengan Gedung Dalom, entah digenerasi k berapa, di masa yang telah lalu, mereka juga ada dalam kapal besar ini, untuk keberlanjutan anak cucu kita, hystoria magistra vitae  sejarah adalah guru kehidupa , membawa pesan dari masa lalu sebagai pembelajaran bagi masa depan, karena itu mari kita jaga dan kita bentangkan layar kapal besar ini, dg semangat persatuan, kecintaan, kekerabatan, semua untuk semua.

Mari kita jaga amanah, lehot, titipan jak tumbai menumbai jo , kham nyunyin kedauna. Gedung Dalom ini sudah mempunyai sejarah  panjang ratusan tahun, eksis dan menjaga amanah zaman, kita semua memilikinya karen darah kita menyatu didalamnya, pertahankan kekokohannya dengan mempertahankan kesolidannya, dan untuk itu apa yang harus dilakukan, maka kita harus tetap bangga dan tetap menjadikan Gedung Dalom sebagai  ICON kebanggaan kita, kita pertahankan rasa memiliki dan dan rasa cinta terhadapnya, seluruh kerabat dan puakhi akkonan Gedung Dalom dalam ikatan persatuan dan kekerabatan yang solid, bersatu, kokoh, kukuh  tidak pernah bergeser, jaga persatuan, kompak , jangan berhianat, jangan korbankan hanya untuk hal yang temporer, pragmatis dan transaksional, waspadalah terhadap pemecah belah, penghianat, musuh dalam selimut.

Baca Juga :  Lapas Gunung Sugih menjadi Tim Pembuatan Regulasi Perawatan Kesehatan Lanjutan Bagi Narapidana Bebas Bersyarat

Saya sitir kata-kata nasihat dari pamanda kita tokoh masyarakat Lampung yang pernah bergetar pada zamannya yaitu alm. Pak Batin Alimuddin Oemar SH, jak negekhi canda , suami Ina Dalom Ros garuntang Kepaksian Belunguh ,  “ lebon ko kutti sifat sai selama hijjo nyani kham nyunyin sulit maju, sai selalu ngeni kesempatan khuppok selalu mippin, dan kham mawat pernah massa kesempatan, buwak kham selalu nikanik khuppok, mak haga nutuk kidang mak dapok munih jadi tutukan, senggiak kik ngeliak hulun bunjak, lalang kik ngeliak hulun cadang “.

Mari kita camkan karena dalam situasi sekarang tidak setiap orang suka dengan kita, sepuluh yang suka, seratus yang tidak suka, waspadalah dengan adu domba serta intrik-intrik dari para penghianat yang  kalau kita lacak memang di zaman dahulu kakek moyangnya memang penghianat, tapi dengan prinsip tetap mak ngedok tok’an, terhadap mereka yang demikian tetap jaga keminak muakhian dan silaturahmi, namun kita juga harus sudah bisa memilih dan memilah sai hippa sai *MAK BIKHI’AN* , dan terhadap yang setia maka apapun pertaruhkan untuk membelanya.

Akhirnya dari semua rangkayan panjang kalimat diatas, kita memang bisa menyampaikan satu kalimat yang paling terhormat, paling mulia, paling bernilai , akan tetapi paling susah dipakai, dipraktekkan secara istiqomah. Yang istiqomah itu adalah kesetiaan, hanya kesetiaanlah yang menempati tempat terhormat, karena itu saya hanya meminta satu hal yang harus sama sama kita jaga, kita pakai, kita pertahankan, kita hormati, dan kita pertaruhkan, untuk tidak kita hianati, sebuah kata kata, fikiran, komitment, keyakinan hati nurani yang tidak pernah akan kita jual atau gadaikan dan TIDAK BOLEH HILANG walau yang lain harus hilang, itu adalah ……TETAP SETIA…..

“ *Hanibung Pekon Tuha*
*Tanno Kebun Kehuwa*
*Kik Kutti Temon Setia*
*Sai Batin Sanggup Bela* “

“Walau angin ribut, gelombang menghumbalang, petir guntur  badai menerpa dan menerjang, jangan pernah tinggalkan kapalmu, _Dont leave your boat,_ karena  badai pasti berlalu, matahari akan memancar hangat, angin semilir tenang dan saat itu kita akan berlayar sambil berdendang, Jangan pernah tinggalkan kapalmu”.

_Wassalamualaikum warahmatullahhi wabarakatuh._

Penulis Novan saliwa

Comment here