Beranda Kerajaan Skala Brak Pangeran Edward Syah Pernong Harum Ditengah Masyarakat Sulawesi Selatan

Pangeran Edward Syah Pernong Harum Ditengah Masyarakat Sulawesi Selatan

137

SKALABRAKNEWS.COM, Makassar_ Lima hari di Makassar menjadi moment penting bagi saya pertama kali menginjakkan kaki ditanah Sulawesi, Salah satu pulau dengan letak geografis berada di Indonesia bagian tengah.

Perjalanan dari Lampung menuju provinsi Sulawesi Selatan dapat ditempuh kurang lebih 3 jam perjalanan via pesawat terbang. Kebetulan perjalanan yang tak lama ini kami sampai sekitar subuh pagi karena pesawat sempat delay. Setiba ditempat penginapan esok harinya perjalanan dilanjutkan dengan agenda utama yaitu menghadiri dan menyaksikan prosesi mandi adat yang menjadi sebuah tradisi masyarakat adat setempat dilingkungan kerajaan Goa.

Pada prosesi mandi adat ini tidak sembarang dilakukan layaknya seperti mandi biasa. Namun terdapat berbagai macam rangkaian dalam prosesi tersebut seperti membaca surat yasin dan shalawat nabi yang dipandu oleh tokoh agama setempat kemudian baru dilakukan pemandian.

Mandi Adat kali ini dilakukan oleh putera mahkota Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong, Pangeran Alprinse Syah Pernong. Pangeran Alprinse Syah Pernong yang masih duduk dibangku sekolah dasar ini merupakan putera sulung Pangeran Edward Syah Pernong, Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke 23.

Mandi adat yang dilakukan oleh sosok yang akrab disapa Pangeran Alprinse ini terhitung ke 8 kalinya dan ini nampaknya terakhir karena ia sudah mulai menginjak dewasa. Mandi adat ini dilakukan disuatu tempat yang disakralkan oleh masyarakat provinsi Sulawesi Selatan khususnya di Kabupaten Goa, Sebab tempat tersebut merupakan sumur peninggalan sejarah kerajaan dahulu kala. Menurut cerita dan keyakinan masyarakat setempat juga pengakuan para karaeng-karaeng disana bahwa sumur yang bernama To Barania merupakan tempat pemandian para keluarga besar dan para pemberani kerajaan Bajeng sebelum berangkat perang. Sumur To Barania terlatak di Kabupaten Goa, Dari Kota Makassar menuju ketempat ini dapat ditempuh sekitar kurang lebih satu jam perjalanan.

Karaeng Kamma selaku juru kunci Bungung Barania Bajeng ini menjelaskan bahwa dahulu kala semua orang pemberani kerajaan Bajeng sebelum berangkat untuk perang terlebih dahulu kesumur To Barania untuk melaksanakan pemandian. Semua prajurit dan orang pemberani To Bajeng kesumur ini untuk a’dingin-dingin dengan kata lainnya ialah menenangkan hati, mendinginkan pikiran sebelum kemedan pertempuran. Banyak kerabat To Polongbangkeng ke tempat ini untuk Mandi, karena Bajeng dan Polongbangkeng satu rumpun. Saya fikir wajar saja, Seperti yang kita ketahui orang-orang di Sulawesi memang terkenal pemberaninya.

Baca Juga :  Polemik Lamban Gedung Kuning Picu Perpecahan, Kepaksian Pernong Gelar Hippun Adat

Dalam perjalanan saya fikir hanya beberapa orang saja yang hadir dalam ritual adat tersebut. Ternyata diluar dugaan, Ratusan masyarakat turut meramaikan dan penyambutan Pangeran Alprinse Syah Pernong bersama Akan-nya (Ayah-nya) Pangeran Edward Syah Pernong yang disambut meriah dengan menggunakan tradisi penyambutan secara adat. Dalam kegiatan tersebut, turut hadir Ketua forum kerajaan dan kelembagaan adat se-Sulawesi, A. Makmur Sadda dan Pemangku Adat Bajeng, Sanrobone, Laikang. Jauh diluar dugaan memang, Meskipun terbilang sebentar kegiatan ini cukup mengesankan.

Setelah pemandian selesai, acara dilanjutkan dengan pemotongan 1 ekor kerbau yang dagingnya dibagikan kepada masyarakat setempat.

Ada yang menarik saat ritual mandi adat dan pemotongan kerbau usai langsungkan. Detik terakhir akan meninggalkan tempat pemandian, Pangeran Alprinse dan Akan-nya Pangeran Edward Syah Pernong menjadi rebutan masyarakat yang menggerubuti sambil berteriak-teriak agar dapat mengabadikan moment yang tak banyak terjadi ini, Apalagi saat prosesi pemandian berlangsung, Para warga mengerumuni menyaksikan diluar pagar sumur.

Saya sempat kaget diawal memang, Pasalnya masyarakat setempat ternyata sudah tidak asing lagi dengan Raja Sekala Brak dan Putera Mahkotanya ini. Kedua sosok ini begitu familiar ditengah mereka, saya fikir ini di Lampung, Ternyata di Sulawesi Selatan. Memang luar biasa, tidak hanya di Lampung, Di Sulawesi mereka terkenal dan harum dimata masyarakat bahkan layaknya seperti artis yang dikerumuni fans-fansnya.

Rasa penasaran dengan penomena ini tentunya muncul pertanyaan dibenak saya secara pribadi. Mengapa Sultan Sekala Brak Lampung begitu dikenal oleh masyarakat tempat dimana pahlawan Sultan Hasanuddin dilahirkan ini ?. Pertanyaan tersebut tidak memberatkan saya untuk berinisiatif mencari tahu jawaban dengan bincang-bincang kecil kepada tokoh setempat.

Sosok pemangku adat bajeng yang ramah dan mudah membaur, Karaeng Gajang tampaknya tidak pelit soal cerita tentang Pangeran Edward Syah Pernong. Ia mengatakan bahwa Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke 23 itu merupakan sosok yang cerdas, cerdik dan pandai. Dengan kecerdasan, Kecerdikkan dan kepandaiannya itu membuat pola fikirnya berilmu dan berwawasan luas, bahkan sedikit banyak juga ia dianggap paham dengan sejarah kerajaan di Goa kemudian pola sikapnya yang ramah, tidak membeda-bedakan, pemersatu, bijak dan tegas membuat ia dengan cepat diingat masyarakat khususnya keluarga besar kerajaan di Goa, ia sosok yang baik dan penyabar, ramah dan santun.

Baca Juga :  Pangeran Edward Syah Pernong : Klaim KAS Dinilai Upaya Makar

Selain dirinya, Sosok puteranya pun diakui oleh karaeng gajang dan tokoh masyarakat disana. Pangeran Alprinse Syah Pernong memang masih menginjak bangku sekolah dasar, Jika dilihat dari umur tergolong masih anak-anak. Tapi jangan salah, Meskipun masih berusia belia, Pola fikir dan pola sikapnya mulai dewasa. Hal itu disampaikan oleh Ketua forum kerajaan dan kelembagaan adat se-Sulawesi, Karaeng A. Makmur Sadda saat beberapa kali melihat secara langsung dari cara Pangeran Alprinse Syah Pernong berbicara dihadapan umum saat berpidato dan bersikap kepada mereka yang lebih tua darinya amat santun. Benar kata pepatah, Buah jatuh itu tidak jauh dari pohonnya. Begitulah kira perumpaan yang tepat untuk sosok anak Lampung yang piawai berbahasa asing ini persis cerdas seperti ayahnya.

Selain itu ternyata Pangeran Alprinse Syah Pernong sudah lama diangkat menjadi bagian daripada keluarga Polongbangkeng. Hal ini dapat dilihat dengan diberikannya gelar kepada sosok pangeran sebagai wujud ikatan keluarga disana, ia diberikan gelar  Iterassa Makkulauw Bassi, Karaeng Barania Ri Polong Bangkeng beberapa waktu silam.

Kecintaan terhadap tanah kelahiran tentunya dapat dilakukan dengan banyak cara, Selain berhasil mengharumkan nama Lampung  ditubuh Kepolisian Republik Indonesia dengan mendulang berbagai prestasi sampai mendapatkan penghargaan dari presiden Soeharto saat itu, Pangeran Edward Syah Pernong juga serius mengembangkan warisan luhur nenek moyangnya. Keberhasilan mengenalkan Budaya Lampung dikancah nasional patut menjadi panutan masyarakat Lampung.

Oleh karenanya tidak heran jika harum di Sulawesi Selatan. Ditambah lagi sosok adiknya, Dang Gusti Ike Edwin yang menyandang status Perdana Menteri Kerajaan menjabat sebagai Wakapolda Sulsel 2003 silam yang mendulang banyak prestasi. Dalam Konteks Adat Budaya tentunya Dang Ike Edwin sebagai seorang Perdana Menteri Kerajaan memiliki tugas mulia disamping menjalankan tugas sebagai Wakapolda yaitu mempererat tali silaturahmi antara Kerajaan Sekala Brak dengan Kerajaan di Goa. Sebab dalam konteks adat istiadat, dirinya tentu mewakili Paduka Yang Mulia, Pangeran Edward Syah Pernong selaku Rajanya.

Baca Juga :  Komunitas'MAKN Sampaikan Belasungkawa Wafatnya Sultan Kesepuhan Cirebon

Sebagai orang Lampung, ada beberapa hikmah yang dapat saya petik sepulang dari Tanah Sulawesi beberapa hari lalu. Pertama, Diera Digitalisasi hari ini, Bicara tradisi adat dan istiadat Lampung tentunya dihadapkan dengan adanya marginalisasi oleh pengaruh perkembangan zaman yang kian pesat. Arus globalisasi yang tidak dapat dibendung membuat budaya Lampung akan semakin termarjinalkan ditengah paradaban dunia dengan pengaruh budaya barat yang seolah-olah melokalisasi tentunya akan berefek terhadap generasi muda Lampung yang menjadi pengembang dan penerus budaya Lampung itu sendiri. Oleh karenanya, Generasi muda Lampung harus menyadari bahwa dirinya memiliki peranan penting dalam upaya pelestarian budayanya sebagai warisan luhur nenek moyang dari zaman ke zaman yang harus dikembangkan. Menumbuhkembangkan Nilai-nilai falsafah hidup yang sudah dipupukkan dalam dirinya dalam pola fikir dan pola sikap menjadi modal utama sehingga dimensi aksiologis filsapat hidup yang dikenal dengan Fiil Pusenggiri memiliki relevansi yang nyata terhadap pengembangan budaya Lampung pada diri dan masyarakatnya. Kedua, Menambah inspirasi dan motivasi saya secara pribadi baik dalam kehidupan sosial maupun budaya. Sisi sosial betapa penting hidup nengah nyappur tidak hanya ditanah kelahiran saja namun diluar sana yang juga amat penting. Sisi budaya, Bicara budaya tentunya bicara tanggung jawab bersama dalam upaya pelestariannya dan Ketiga, Kita musti bangga, Lampung semakin dikenal masyarakat diseluruh nusantara atas kepedulian Pangeran Edward Syah Pernong yang berhasil mengharumkan nama Lampung dimata masyarakat secara luas, Lampung semakin mengudara.

Rosim Nyerupa
Penulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here