Beranda Seni dan Budaya Pangeran Edward Syah Pernong : Raja yang menjaga Nilai Budaya,Perdamaian Dan Perekat...

Pangeran Edward Syah Pernong : Raja yang menjaga Nilai Budaya,Perdamaian Dan Perekat NKRI

23

SPBD Pangeran Edward Syah Pernong Sultan Skalabrak Yang Dipertuan Ke 23 Kepaksian Pernong

SKALABRAKNEWS.COM_LAMPUNG : Bagi masyarakat Provinsi Lampung sosok Pangeran Edward Syah Pernong mungkin sudah tidak asing. Mantan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Lampung ini adalah Raja Kerajaan Adat Sekala Brak Kepaksian Pernong Lampung bergelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan XXIII.

Sejak dinobatkan menjadi Sultan selaku pimpinan tertinggi dalam kerajaannya, SPDB ( Saibatin Puniakan Dalom Beliau ) Pangeran Edward Syah Pernong yang kerap disapa dengan puniakan dalom beliau ini, tidaklah serta-merta membuatnya menjadi sosok yang menjaga jarak baik dari kerabat, sahabat maupun dari masyarakat adatnya, ataupun ia menempatkan dirinya dalam strata yang berbeda, tetapi malah sebaliknya dia tetap tidak berubah dalam bersikap egalitarian, setara, dialogis, serta berusaha untuk selalu membangun komunikasi yang akrab dengan semua rekan-rekannya dari beragam profesi, golongan, maupun suku tertentu.

Dalam kesehariannya Pangeran Edward juga selalu menerapkan kepada masyarakat adatnya tentang pentingnya menjaga nilai-nilai tradisi, perlunya mempunyai sifat yang ahlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari, agar supaya nilai-nilai budaya yang sudah diwariskan turun temurun dapat tetap dijaga dan dipertahankan hingga kini, itulah sebabnya dalam istilah masyarakat Lampung adat itu disebut “alat pegang pakai” yaitu suatu kebiasaan yang dianggap patut yang harus dipegang dan dipertahankan, serta dipakai dalam mengisi suatu kehidupan bersama.

Disambut oleh Para Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat
Dalam falsafah hidup masyarakat Lampung sangat dikenal nilai-nilai kehidupan yang terkait dalam upaya menjaga nilai integritas dan kehormatan, selain itu juga semangat kerjasama  untuk bergotong royong, dan berkiprah ditengah masyarakat yang didorong oleh rasa kepedulian untuk saling memberikan kontribusi, juga kedermawanan dalam memberikan bantuan terhadap sanak kerabat dan masyarakat serta mengapresiasi dalam bentuk penghargaan sebutan dan kedudukan terhadap mereka-mereka yang telah memberikan kontribusi tersebut, hal itulah yang menjadi nilai-nilai prinsip kehidupan yang dikenal dengan istilah fi’il pesenggiri, sakay sambayan, nemui nyimah, nengah nyappukh dan bejuluk beadeq, kesemuanya itu adalah Capital Social yang merupakan falsafah hidup yang dipakai oleh orang orang yang hidup dalam masyarakat adat Lampung, demikian dikatakan Pangeran Edward saat ditemui FORUM Keadilan di sela acara Gelaran acara Asian African Carnival 2017 yang digelar di Kota Bandung, Jawa Barat, sabtu, 13 mei 2017.

Peringatan Konferensi Asia Afrika di Bandung
Pada peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-62 yang dilaksanakan di Kota Bandung dimana digelar acara Karnaval yang menghadirkan kerajaan adat se Nusantara serta perwakilan kerajaan Asia maupun Eropa, Kerajaan Adat Sekala Brak Lampung juga diminta kehadirannya bahkan langsung oleh Sultan Sepuh Raja Keraton Kasepuhan Cirebon agar Sekala Brak bukan hanya untuk dapat hadir saja tetapi ikut serta mengisi acara carnaval serta gala dinner, tentu saja hal ini tidak terlepas dari hubungan persaudaraan yang erat antara Pangeran Edward Syah Pernong Sultan Sekala Brak dan Pangeran Arief Sultan Sepuh yang memang sudah terbina sejak lama, dan memang moment seperti ini dianggap oleh Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke 23 sebagai waktu yang tepat untuk lebih membuka komunikasi, dialog, kesepakatan serta memperkuat komitmen antara kerajaan di nusantara. Kehadiran Kerajaan Adat Sekala Brak didukung oleh perwakilan-perwakilan punggawa adat yang memang mempunyai hubungan kekerabatan dengan Kerajaan Sekala Brak yang menghadirkan hampir 200 personil untuk mengisi acara carnaval tersebut, memang jumlahnya masih dibawah Kerajaan Gowa yang membawa personil adat paling banyak. Dalam kontingen Kerajaan Sekala Brak hadir juga tiga panglima adat kerajaan yang memegang wilayah pesisir. Sebagaimana diketahui Kerajaan Sekala Brak Di Lampung Barat mempunyai hubungan darah dan kekerabatan dengan marga-marga adat maupun bandar adat di sepanjang pesisir tanah Lampung, karena mereka memegang adat yang satu yaitu adat Sai Batin yang berasal dari Kerajaan Sekala Brak. Sehingga keberangkatan menghadiri festival juga diikuti oleh perangkat-perangkat adat Sekala Brak maupun hulubalang kerajaan serta para pemberani yang berasal dari kab. Pesisir Barat, kab. Tanggamus, kab. Pringsewu juga daerah Lampung Selatan Kalianda yang juga disebut Way Handak, bahkan beberapa Panglima itu ialah yang memegang (menjaga tradisi adat ) wilayah selatan tanah Lampung, yaitu marga-marga adat keturunan sekala brak di daerah Way Handak.

Sultan Sekala Brak XXIII bersama Sultan Cirebon dan Raja Gowa
Keikutsertaan Kerajaan adat dari Lampung/ Kepaksian Sekala Brak, kata Pangeran Edward, sebagai wujud peran serta masyarakat adat Lampung dalam merawat, menjaga dan mempertahankan nilai-nilai budaya bangsa, sebagai suatu tradisi yang diwariskan oleh leluhur, dan merupakan pranata sosial, nilai-nilai kehidupan yang dipegang serta dianggap patut untuk menjadi rujukan dalam interaksi, dinamika kehidupan masyarakat dari waktu kewaktu, sehingga sampai saat ini nilai-nilai tradisi masyarakat Lampung menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam komitmennya untuk berpartisipasi aktif dan dinamis dalam mengisi pembangunan.
Sebagaimana juga saudara-saudaranya ditempat lain didalam masyarakat adat di Nusantara, Masyarakat Lampung juga dikenal sangat gigih berjuang mewujudkan Kemerdekaan, dan komitmen itu sudah tumbuh dalam jati diri masyarakat sebelum masa kemerdekaan Republik Indonesia. Sehingga sejak awal kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan ikhlas telah menyerahkan kedaulatannya untuk bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdaulat penuh dan ikut serta dalam perjuangan mengisi Kemerdekaan.

Setelah melebur menjadi bagian dalam NKRI maka Kerajaan-Kerajaan di Nusantara secara politis sudah selesai. Namun secara budaya identitas-identitas lokal yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam keberagaman tetap harus dipertahankan sebagai bagian dari kebhinekaan suatu bangsa yang telah menyatu, dalam konteks inilah Lampung sebagai salah satu wilayah yang terstruktur dalam pemerintahan NKRI, tetap mempertahankan budaya masyarakat adat Lampung, dengan melestarikan nilai-nilai tradisi sebagai sebuah kearifan lokal, yaitu kepatutan-kepatutan, kebiasaan-kebiasaan yang baik, norma-norma kehidupan yang menjaga dan mempertahankan interaksi sosial dalam kehidupan bersama, sebagai pranata sosial masyarakat dalam mengisi pembangunan kehidupan berbangsa dan bernegara. Agar kehidupan bersama dalam bermasyarakat tetap terjaga dan tertata, maka nilai-nilai tradisi itu harus dijaga dan dipertahankan oleh sebuah struktur organisasi adat, yang secara nyata dan factual masih hidup, berlaku, dihormati serta mempunyai nilai legitimasi dalam kiprah kehidupan bersama, yang didalam terminologi masyarakat disebut dengan Kerajaan Adat, disinilah Kepaksian Sekala Brak hadir dalam konteks terminologi yang disebut Kerajaan Adat untuk mengemban amanah dan warisan tradisi di Tanah Lampung, kiprah yang diharapkan adalah organisasi adat ini dapat menjadi katalisator maupun motivator sekaligus stabilator bagi masyarakat dalam saling berinteraksi, bersosialisasi, membangun kehidupan bersama mengisi pembangunan, termasuk didalamnya mempertahankan nilai-nilai patriotis sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kewajiban berbangsa dan bernegara, yaitu rasa cinta terhadap tanah air Indonesia.

Baca Juga :  Minangkabau Begawie, Pemangku Adat Pagaruyung disambut Pembesar Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak.

Kerajaan adat yang tetap dipertahankan dan telah memperoleh hak hidup harus menjadi bagian dari identitas dan perekat bagi kehidupan bangsa, dalam konteks terminologi kerajaan inilah maka yang kita angkat dan kita pertahankan adalah nilai-nilai tradisi kerajaan, berupa nilai-nilai luhur, nilai-nilai kemuliaan berupa kesetiaan, kecintaan terhadap tanah air, merawat tata-titi, tata cara, tata bicara sebagai sebuah capital social yang dijunjung tinggi dalam suatu komunitas masyarakat yang beradab dan berbudaya.

Kasih Sayang Yang Ditebarkan akan Menuai Kasih Sayang Pula

Sejak zaman masa kolonial, daerah Lampung memang dikenal memiliki kekayaan sumber kekayaan alam yang berlimpah. Hal ini tentunya menjadi magnet bagi kaum bangsa penjajah mulai dari Inggis, Portugis, hingga Belanda untuk datang mengusainya. Namun berkat kegigihan rakyatnya, provinsi yang berbatasan dengan pulau Jawa ini tak bisa ditaklukan oleh kaum penjajah.  Di Sekala Brak, lantaran tak mau tunduk dan patuh, serta rasa khawatirnya belanda yang notabene Sekala Brak sebagai Asal Usul Masyarakat Lampung maka pemerintahan Kepaksian di Sekala Brak dimarginalkan oleh pemerintahan kolonial Belanda. Sebagai bukti bahwa pusat Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak di Lampung Barat diblok dan tidak dimasukan dalam struktur administrasi pemerintahan keresidenan Lampung, tapi dipecah Belanda, defacto kepaksian pernong masuk dibawah administrasi pemerintahan keresidenan Bengkulu, sedangkan kepaksian belunguh dibawah administrasi keresidenan Palembang, artinya pusat tradisi budaya masyarakat Lampung justru dipisahkan dari kohesifitas kelompok-kelompok keluarga besarnya, karena ketakutan belanda apabila pusat kerajaan /kepaksian ditanah Lampung ini menyatu didalam satu wilayah administrasi pemerintahan, dikhawatir akan menimbulkan permasalahan baru, baik berupa pemberontakan maupun perlawanan terhadap belanda, keturunan sekala brak ditanggamus yaitu batin mangunang telah mengangkat senjata, sultan ali akbar khalifatulloh ahmadsyah saibatin kepaksian nyerupa juga telah angkat senjata walaupun akhirnya tertangkap dan diasingkan oleh belanda ketanah suci dan tidak pernah kembali lagi, demikian juga Radin Intan di Way Handak selama tiga generasi berperang melawan belanda.

Kerajaan Sekala Brak (Sekala Beghak) kuno berkedudukan ditengkuk Gunung Pesagi di Lampung Barat berdiri pada sekitar abad ke-3 Masehi. Pada abad ke-11 atau sejak agama Islam masuk ke tanah air, Kerajaan Sekala Brak yang beragama animisme pun kemudian ditaklukkan oleh para mujahid yang terdiri dari empat orang Umpu bersaudara kandung keturunan Rosululloh yang berasal dari Samudra Pasai keturunan Sultan Iskandar Zulkarnain, mereka menyusuri dan singgah di pagaruyung kemudian kearah muko-muko dan selanjutnya mengislamkan Kerajaan Animisme Sekala Brak Kuno. Setelah penaklukkan dan pengislaman Kerajaan Sekala brak kuno inilah kemudian berdiri Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak yang disebut Kepaksian Sekala Brak, yang terdiri dari empat paksi atau otoritas yang berbeda-beda, Paksi Pak artinya Empat Tertinggi, Empat naungan puncak tertinggi yaitu Gunung Seminung, Gunung Pesagi, Gunung Tanggamus dan Gunung Rajabasa. Paksi Pak Sekala Brak artinya Empat pemegang otoritas tertinggi ditanah sekala brak, sebagai daerah asal-usul orang Lampung, keempat paksi itu adalah Kepaksian Pernong, Kepaksian Bejalan Di Way, Kepaksian Belunguh dan Kepaksian Nyerupa. Seorang Sultan/Raja didalam sebuah Kepaksian disebut Sai Batin, masing-masing memiliki wilayah, rakyat, dan adat-istiadatnya sendiri, keempatnya mempunyai kedudukan yang sama/ sederajad. Kerajaan Skala Brak yang secara geografis berada di wilayah Kabupaten Lampung Barat disebut-sebut sebagai simbol peradaban pertama di tanah Lampung.

Prasasti Hujung Langit Peninggalan Raja Sri Haridewa di Sekala Brak pada akhir abad 9 M

Pada hari sabtu tanggal 20 Mei 1989, Pangeran Edward Syah Pernong dinobatkan sebagai Sultan Kepaksian Pernong, Kerajaan Adat Paksi Pak Skala Brak Lampung dengan gelar Sultan Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi,  Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan XXIII. Ia merupakan Jurai Lurus Tak Terputus Tertua dari garis Ratu, sejak Ratu Umpu Pernong penguasa pertama di Kepaksian Pernong Sekala Brak.

Seiring perkembangan kehidupan masyarakat, dimana masyarakat Sekala Brak juga ingin membesarkan adat, memperluas kehidupan, mendirikan negeri-negeri baru yang dalam istilah Lampung ngebujakh lain miccakh membesarkan kerajaan bukan memisahkan diri, serta terkait dengan kondisi wilayah pusat Kepaksian Sekala Brak adalah sumber mata air dari 7 tujuh sungai yang mengalir di Tanah Lampung, dimana Lampung Barat juga kelilingi hutan lindung dan sering terjadi bencana alam, selain itu juga tradisi adat bersifat mayorat dimana hak hanya jatuh kepada anak tertua laki-laki, faktor-faktor itulah membuat anak keturunan dari sekala brak menyebar ke berbagai wilayah lainnya di Lampung. Mereka yang pindah ke berbagai daerah ini kemudian mendirikan komunitas-komunitas baru yang disebut Marga Adat, selanjutnya mereka yang pindah ke wilayah pelabuhan di pesisir pantai Lampung membentuk Bandar Adat, dan mereka yang menyebar tidak pernah lupa tanah asal usulnya yaitu “anjak lambung” tanah bumi Sekala Brak.

“Rakyat Lampung menempatkan hubungan darah yang harus dihormati, bahkan orang lampung rela berkorban demi membela saudara atau keturunannya, itulah yang menyebabkan perluasan dari kepaksian sekala brak dalam bentuk kerajaan tidak bersifat ekspansionis,” kata Pangeran Edward.

Karir di Kepolsian

Karir Pangeran Edward, sejak Lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada  ini dilantik sebagai perwira polri pada tahun 1984 disukabumi, mulai dari saat itulah hampir dalam sepanjang kariernya bergelut dalam bidang reserse, sehingga ia juga dikenal sebagai salah satu perwira polri bernyali tinggi pemberantas kejahatan.

Memang kalau dikomparasikan dengan perwira yang meniti karier dari jurusan non akpol, maka Karier Pangeran Edward di Korp Bayangkara termasuk salah satu diantara segelintir polisi dari jalur Non.Akpol yang selalu duduk menempati jabatan-jabatan strategis, yang hampir tidak pernah sebelum dan sesudahnya diduduki oleh perwira-perwira non akpol, hingga iapun dipercaya menjadi Kapolda di kampung halamannya sendiri.

Namanya mulai menghiasi media massa sejak menjabat Kasatserse Polres Metro Bekasi pada 1992. Prestasi pertamanya yang menonjol adalah saat mengungkap kasus perampokan disertai perkosaan sadis di Bekasi yang dikenal sebagai kasus Acan pada 1995, atas prestasinya ini oleh Presiden Soeharto memanggilnya ke Istana Negara dan menganugerahinya Lencana Adhi Satya Bhakti.

Pada 1996, Pangeran Edward dimutasi sebagai Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, di tempat baru ini pula dia berhasil mengungkap kasus besar, adalah Siswanto atau dikenal sebagai Robot Gedek pelaku perbuatan kriminal berupa sodomi disertai pembunuhan anak kecil di sekitar Jakarta dan Jawa Tengah pada rentang waktu 1994-1996.

Baca Juga :  Putra Mahkota Kerajaan Sekala Brak Kepaksian Pernong hadiri Royal Wedding Pura Pakualaman

Tahun 1997 ia menjadi wakpolres Metro Jakarta Utara, kemudian mengikuti pendidikan sespim dan lulus, kemudian ditempatkan sebagai Kasatreskrim Polwiltabes Bandung. Pada akhir tahun 2000 terjadi peledakan di antapani oleh kelompok radikal yang ingin meledakkan beberapa gereja di Bandung, Superintenden Edward Pernong sebagai Kasatreskrim Polwilatbes Bandung berpatner dengan KasatIntel Superintenden Muktiono ( saat ini Kapolda Sulsel ) berhasil menangkap pelaku peledakan aceng dan ikbal di Berbes, para tersangka diajukan kepengadilan dan dihukum 15 tahun, keberhasilan itu mengantarkan pangeran edward menjadi Kapolresta Bandung Tengah, selanjutnya dari Bandung Tengah mendapat promosi sebagai Kapolres Bandung di Cibabat -Cimahi Jawa Barat.

Dari beberapa keberhasilan tersebut, pimpinan mempercayakan promosi jabatan dan pangkat kepada Pangeran Edward, ia mendapat promosi jabatan komisaris besar (kombes) sebagai Kapolres Metropolitan Bekasi, setelah itu lanjut menjadi Kapolres Metropolitan Jakarta Barat.

Di Jakarta Barat, ia kembali menjadi “buah birbir” karena menjebloskan preman Tanah Abang, Hercules, beserta seratusan anak buahnya yang menduduki lahan sengketa.

Saat Menjadi Wakapolda Maluku Utara,  foto bersama Kapolda dan Sultan Ternate 

Tahun 2009 ia menjabat sebagai Kapolwiltabes Semarang Jawa Tengah dan mendapat tugas untuk menyelesaikan kasus Syech Puji mengajukannya ke pengadilan, kemudian ia mengabdi di pendidikan Lemdik Akpol, selanjutnya menjadi Wakapolda Maluku Utara, terakhir pada tahun 2015 Edward menjabat sebagai Kapolda Lampung dan sejak tahun 2016 perwira tinggi staf ahli polri.

Penerus Jejak Pahlawan

Darah yang mengalir ditubuh Pangeran Edward Syah Pernong adalah murni darah pahlawan sejati, kedua kakeknya baik dari garis ayah maupun garis ibu adalah pahlawan, selain itu ayah kandung maupun paman kandung dari garis ayah maupun ibu adalah para pejuang kemerdekaan dan terbaring sebagai pahlawan kesuma bangsa di Taman Makam Pahlawan.

Kakeknya adalah Pangeran Suhaimi Sultan Lela Muda bin Sultan Makmur Dalom Natadiraja yang memiliki tiga orang putra, yang pertama Pangeran Maulana Balyan ayahanda dari Pangeran Edward Syah Pernong, kedua H.A.Moeis suhaimi saibatin Marga Liwa dan ketiga Mayor PSK M. Bunyamin ( Perdana Mentri Kerajaan ) yang saat ini namanya diabadikan sebagai pangkalan udara di Tulang Bawang Lampung, ayah kandung dari Irjen. Pol. Dr. Ike Edwin. Pangeran Suhaimi dan ketiga putra kandungnya itu dimakamkan di TMP Kedaton Bandar Lampung, suatu keistimewaan yang jarang terjadi dimana seorang ayah terbaring bersama tiga putra kandungnya sebagai pahlawan kesuma bangsa.

Pangeran Soehaimi  gelar Sultan Lela Muda Dengian Paksi
Kakek dari Sultan Sekala Brak XXIII
Perjalanan karier Sang kakek begitu gemilang, tercatat dalam sejarah beliau pernah menjadi  Akting Bupati Perang Lampung Tengah, sebelumnya adalah Wedana Perang Pimpinan perlawanan Rakyat Bukit Kemuning Front Utara dan pada masa revolusi membentuk API (Angkatan Pemuda Indonesia ) dan masuk TNI sebagai wedana perang di Lampung Utara, beliau juga sebagai Bupati Perang dan bergerilya di daerah Lampung Tengah dan Lampung Selatan. Dengan surat Keputusan Residen Lampung tanggal 13 Desember 1949, Pangeran Suhaimi diangkat sebagai Akting Bupati Perang Lampung Tengah, beliaulah yang menerima penyerahan daerah atau wilayah Lampung Tengah dari tangan Belanda tanggal 15 Desember 1949. Pangeran Suhaimi pensiun sebagai Bupati / Pegawai Tinggi Kotaprajaan pada Kantor Gubernur Lampung pada november 1967.

Sedangkan dari garis pihak ibu, kakek pangeran Edward adalah Pahlwan Akmal, ia menikah dengan  Siti Robima Puri yang tidak lain adalah kakak kandung dari Pangeran Suhaimi Sultan Lela Muda. Didalam adat Lampung status pernikahan Pahlawan Akmal saat itu adalah semanda yaitu masuk kedalam adat Gedung Dalom Kepaksian Pernong Sekala Brak. Dari pernikahannya itu Pahlawan Akmal dikaruniai enam orang anak yaitu Letnan Acmad Zawawi Akmal seorang pejuang kemerdekaan dimakamkan di TMP Jakarta, Iskandar Akmal juga seorang pejuang kemerdekaan, Siti Rochma Syuri Ibunda dari Pangeran Edward Syah Pernong, Siti Lela Romziah Akmal , Husna Zumrati Akmal dan Kamilah Akmal.

Pangeran Maulana Balyan dan Ratu Rochmasyuri
Ayahanda dan Ibunda Sultan Sekala Brak XXIII
Pahlawan Akmal gugur pada tahun 1945 setelah kemerdekaan. Untuk mengenang jasa beliau pemerintah Sumatera Selatan mengabadikan dalam bentuk monumen perjuangan rakyat ranau ( MONPERA) di simpang zender Ranau sumatera selatan , beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kemarung Batu Raja Sumatera Selatan dan diabadikan menjadi salah satu jalan utama di Kota Batu Raja. Didalam perjalanan pendidikannya, Pahlawan Akmal pernah satu pondok dengan Bung Karno, Karto Suwiryo, Daud Beureh di rumah HOS Cokro Aminoto.  Pada saat terjadi sengketa tanah gunung seminung antara rakyat dengan pemerintah Belanda, Pahlawan Akmal mengajak KH. Agus Salim ke Ranau untuk bersama-sama memperjuangkan hak-hak rakyat, atas upaya mereka akhirnya sengketa tanah dimenangkan oleh rakyat. Tak hanya itu, atas kerja keras Pahlawan Akmal pulalah sehingga PSII  mampu dibawa dan dibentuk untuk pertamakalinya di Sumbagsel. Semua rakyat Ranau mengetahui kegigihan perjuangan Pahlawan Akmal, oleh karena itu beliau disebut dengan Pahlawan Rakyat Ranau.

Dari semua torehan sejarah yang ditinggalkan oleh kakek, ayah dan pamannya itu Pangeran Edward Syah Pernong belajar dan berusaha meneladani perjuangan Ayah dan kakeknya, khususnya dalam meniti karier dikepolisian secara totalitas sebagai Bhayangkara Negara dengan melayani masyarakat dan menegakkan hukum, termasuk juga dalam membina masyarakat adatnya, sebagai seorang Sultan ia berjuang dengan tulus dan ikhlas memperjuangkan marwah kebesaran Kerajaannya hingga mampu tetap bersanding bersama Kerajaan lain di Nusantara, untuk kelestarian adat istiadat warisan leluhur, sebagai bagian dari jati diri bangsa, demi keut uhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kekinian Yang Berjalan

Tentang Kebhinekaan, Pangeran Edward Syah Pernong mengajarkan tentang pentingnya rasa persatuan dan persaudaraan, serta menerima kebhinekaan sebagai sebuah kekuatan suatu bangsa. Perbedaan warna kulit, suku, ras, agama perlu dipahami sebagai keragaman dalam mozaik khazanah Nusantara sehingga semua itu menjadi lebih mengokohkan komitmen untuk menjaga kohesifitas dalam suatu kesatuan yang utuh sebagai bangsa yang multietnik.

Para Tokoh Lampung di Gedung Dalom ( Istana ) Kepaksian Pernong Sekala Brak

Apa yang disampakan diatas bukan hanya sebuah wacana, karena bagi Pangeran Edward semuanya harus diwujudkan dengan buktin nyata yang dilaksanakan dalam kehidupan bersama di tanah Lampung. Dalam konteks inilah, ketika etnik/suku Tionghoa yang tergabung dalam Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi Lampung kilu angkon, sebagai Sultan Kepaksian Pernong Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Bkhak, Lampung tentu menyambut baik keinginan menyambung tali persaudaraan tersebut. Niat baik itu kemudian ditindaklanjuti dengan digelarnya prosesi adat angkon muakhi, yakni pengakuan bersaudara antara etnik/suku Tionghoa yang tergabung dalam wadah PSMTI Provinsi Lampung dan masyarakat adat Saibatin. Acara yang berlangsung di Gedung Serbaguna (GSG) Pahoman, Bandar Lampung, pada 21 September 2015 tersebut, dari Kepaksian Pernong Sekala Bkhak dihadiri oleh perwakilan para Saibatin Marga dan bandar sepanjang pesisir, dan beberapa marga adat kepenyimbangan sebagai bentuk penerimaan terhadap acara yang merekatkan rasa persatuan dan kesatuan sebagai anak bangsa.

Baca Juga :  Irjen Pol Dang Gusti Ike Edwin Perdana Mentri Kerajaan Skala Brak

Sultan Sekala Brak XXIII memberi penghargaan pada Puakhi Punsu
Persatuan Marga Tionghoa
Hakikat dari prosesi angkon muakhi itu ialah etnik/suku Tionghoa yang berada di Provinsi Lampung telah menjadi bagian dari masyarakat adat yang mendiami tanah bumi pusaka Lampung tercinta, dan juga sebagai bagian dari NKRI.

Pangeran Edward dalam sambutannya menyampaikan bahwa “ keberadaan saudara-saudara saya dari PSMTI saya sebut sebagai puakhi pungsu atau saudara bungsu yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama, sebagai bagian sebuah keluarga besar masyarakat adat sehingga tidak ada lagi istilah termarginalkan bagi suatu komunitas masyarakat di tanah Lampung”.

Selain hal diatas, gagasan Pangeran Edward Syah Pernong tentang Kebhinekaan Indonesia adalah bahwa ia memandang secara defacto keragaman memang telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka, dengan adanya Kerajaan- Kerajaan yang memiliki ragam adat istiadat dan tradisi, dan setelah Indonesia merdeka, tahun 1945, maka seluruh kerajaan Nusantara bergabung dengan NKRI. Kerajaan sebagai kesatuan politik telah lebur menjadi bagian dari Indonesia. Namun, kerajaan sebagai kesatuan budaya, masih kuat berakar dan berfungsi.

Sultan Sekala Brak XXIII bersama sesepuh Masyarakat Bali di Lampung Tengah
Bagaimanapun, kebesaran sebuah bangsa tergantung pada peradaban dan kebudayaannya. Bangsa yang memiliki peradaban dan kebudayaan unggul, akan tetap menjadi bangsa yang unggul bila tiap warga bangsa mau memelihara kebudayaan yang dimiliki tersebut. Sebaliknya, bangsa yang unggul akan hancur, bila kebudayaan dan peradabannya tak dijaga. Dan Lampung termasuk bangsa yang memiliki peradaban yang unggul, karena masyarakat Lampung memiliki ragam warisan luhur nenek moyang, seperti ragam kesenian, tradisi keseharian maupun adat –istiadat Kerajaannya, selain itu juga Lampung memiliki aksara sendiri yaitu Kaganga. Bangsa yang memiliki huruf/aksara tersendiri, pasti memiliki tradisi literasi yang bagus. Dan bangsa yang memiliki tradisi literasi, menunjukkan keunggulan peradabannya.

Sultan membaur dengan para tokoh masyarakat Hindu di Seputihraman Lampung Tengah

Dalam perkembangannya, masyarakat yang tinggal di Lampung bukan hanya multikultur dan muktietnik, namun juga multiagama, secara politik juga multipartai. Faktor ekonomi seperti sudah disinggung di atas, justru sering menjadi pemicu ketegangan antar kelompok yang ada di Lampung. Oleh sebab itu diperlukan upaya-upaya dialog agar problem ekonomi tidak diseret ke ranah etnik/kultur/agama.

Maka dengan ide dan gagasan diataslah ketika Pangeran Edward Syah Pernong memimpin sebagai Kapolda Lampung, ia sangat menitik beratkan pendekatan socio cultural untuk menciptakan masyarakat Lampung yang aman dan damai, salah satu program yang ia digulirkan adalah “ anjau silau “, dalam bahasa Lampung yang berarti datang berkunjung dan menengok/ memantau langsung, melalui Anjau Silau Pangeran Edward menginginkan polisi dan masyarakat tak lagi berjarak bahkan saling medekat satu sama lain, menjalin komunikasi langsung, pembinaan masyarakat, serta mengantisipasi dan menyelesaikan masalah. Dalam kepemimpinannya Pangeran Edward Syah Pernong mencoba menggerakkan peran dan fungsi Marga-Marga adat yang ada di Provinsi Lampung untuk medorong terciptanya situasi yang kondusif, maka tak jarang dalam perjalanan Anjau Silau keberbagai daerah ia diiringi oleh Para Punggawa Kerajaannya dan disambut secara adat oleh masyarakat, seperti diantaranya di marga-Marga yang ada di Pesisir Barat saat Anjau Silau di Marga Ngaras, marga adat di Way Handak Lampung Selatan, Tanggamus, Tulang Bawang, Lampung Utara dan lainnya.

Sai Batin Kepaksian Pernong Sultan Sekala Brak XXIII
Disambut oleh para Suntan / Sai Batin Marga se Kabupaten Pesisir Barat. 
Terbukti dibawah kepemimpinan Pangeran Edward Syah Pernong selaku Kapolda Lampung tingkat keamanan meningkat, termasuk penanggulangan terhadap kejahatan kekerasan telah memberikan rasa nyaman terhadap masyarakat, seorang budayawan Isbedi Setiawan mengatakan “ dizaman masa kepemimpinan Pun ( panggilan akrab Pangeran Edward) sebagai Kapolda, meski sampai jam 23 – 24  malam kami tetap merasa tenang berseliweran berkendaraan bermotor “. Simultanisasi langka preemtif, prepentif dan represif adalah suatu upaya  untuk menghilangkan istilah begal, yang terminology itu sendiri bukan terminology masyarakat Lampung, tapi dari luar daerah, sehingga diperlukan kerjasama untuk meluruskan stigma yang tidak benar seolah olah ada kampung begal di Lampung, padahal masalah kejahatan dimana-mana selalu ada, yang penting bagaimana penanggulangannya terutama pengungkapannya oleh para bhayangkara reserse, itulah sebabnya ada motto “ dimana ada kejahatan disitu ada reserse, karena reserse menampilkan dirinya di arena melawan kejahatan“. Sebagai Kapolda Lampung ia menegaskan jangan perburuk citra masyarakat dengan seolah-olah ada kampung begal, tapi bagaimana kita memulihkan kesadaran masyarakat untuk berkontribusi dalam pembangunan demi kesejahteraan bersama, namun pada sisi lain kita tetap harus mengatensi terhadap prilaku-prilaku yang menyimpang dan gradasinya telah meresahkan masyarakat, oleh karena itulah untuk pertama kalinya Pangeran Edward membentuk Tim Khusus Anti Bandit (Tekab) 308 diwilayah Polda Lampung, bukan hanya berfungsi sebagai represif power tetapi juga deteren effect, sebuah peringatan agar jangan coba-coba melakukan kejahatan. Reputasi tekab 308 selalu berkumandang sampai saat ini sebagai satuan penanggulangan kejahatan yang menjaga rakyat Lampung.
 

Ada sebuah pesan dari Pangeran Edward yang dapat kita renungkan dan ambil pelajaran, “ perjalanan tugas saya di kepolisian ini semuanya adalah untuk masyarakat, dalam pengabdian saya keberhasilan tidak pernah terlepas dari kehadiran sesama rekan saya dikepolisian, anggota reserse dan juga arahan-arahan pimpinan saya, keberhasilan tugas saya bukan hasil dari pribadi saya sendiri, tapi keberhasilan ini adalah hasil dari sebuah kerjasama,  dan yang tak kalah pentingnya adalah dukungan dari masyarakat yang begitu besar terhadap institusi kepolisian dimana saya bertugas, untuk merajut segala perbedaan dan mengurai masalah, dengan tegas dan profesionalitas, demi terawatnya rasa aman, rasa terlindungi, rasa berperanserta, serta rasa percaya masyarakat terhadap organisasi dimana dahulu saya pernah berjuang dan bertugas, sebagai penutup sebagaimana sering saya mendengar jargon-jargon semangat pengabdian maka sayapun ingin menyatakan, untuk seorang bhayangkara pejuang, perjalanan tak pernah berakhir “ for a bhayangkara fighter, there is no journey end ”

Penulis : Novan Saliwa ( Pemuda Lampung Asal Sekala Brak / Staff Pemandu Budaya Anjungan Lampung TMI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here