Beranda Seni dan Budaya PUN EDWARD SYAH PERNONG : Jendral Penumpas Kejahatan Sultan perekat Persaudaraan

PUN EDWARD SYAH PERNONG : Jendral Penumpas Kejahatan Sultan perekat Persaudaraan

137

PANGERAN EDWARD SYAH PERNONG

SKLABRAKNEWS.COM_LAMPUNG :Sosok inspiratif itu bernama Edward Syah Pernong. Karakter tegas, tangkas, dan berani mengambil risiko tercermin dalam jejak perjalanan karirnya sebagai perwira polisi. Di sisi lain, kesantunan, kepedulian, dan belas kasih penuh persaudaraan terekam pada lintasan sejarah kepemimpinannya sebagai Sultan Kepaksian Pernong di Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak, Lampung. Dua karakter unik yang terkesan kontras itu menyatu dalam diri Edward, membentuk kepribadian pemimpin humanis yang selalu siap siaga (readiness) merespon setiap tantangan tugas kepemimpinan, baik di kepolisian maupun di masyarakat, yang membutuhkan solusi dari pemimpin.

Brigjen Pol (Purn.) Drs. Edward Syah Pernong, SH, MH, lahir di Jakarta pada  27 Januari 1958. Ia meraih sarjana dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada pada 1983, dan mengawali karier kepolisian melalui jalur Sekolah Perwira (Sepa). Perjalanan kariernya dinilai banyak pihak sebagai fantastis. Pertama ditempatkan di PTIK pada 1984. Setelah itu disekolahkan oleh Gubernur PTIK di Pendidikan Kejuruan Reserse. Lalu, masuk Selapa Dikreg XX 1992, kemudian ditempatkan di Polda Metro Jaya, sebagai Kasubnit I Reserse Umum. Tidak lebih tiga bulan di sana, ia dipercayakan mengemban tugas sebagai Kasatserse Polres Metro Bekasi pada 1992. Sebagian besar tugasnya di kepolisian didedikasikan dalam bidang reserse; mengungkap peristiwa kejahatan dan menangkap para penjahat. Prestasinya dalam mengungkap banyak tindak kejahatan mendapat apresiasi istimewa dari Presiden Soeharto, berupa penghargaan Lencana Adhi Satya Bhakti.

 

Bersama Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian, Phd, semasa Tito menjabat Kapolda Metro Jaya di ruang kerjanya.

Jabatan struktural yang sempat diembannya di kepolisian, antara lain; Kasubnit I Reserse Umum Polda Metro Jaya (1992), Kasat Serse Polres Metro Bekasi Polda Metro Jaya (1992), Kasat Serse Polres Metro Jakarta Pusat Polda Metro Jaya (1995), Kabag Reserse Tipiter Polda Jabar (2000), Kabag Reserse Polwiltabes Bandung Polda Jabar (2000), Kapolres Bandung Tengah Polwiltabes Bandung Polda Jabar (2001), Kapolres Bandung Polda Jabar (2002), Wakapoltabes Palembang Polda Sumsel, Kapolres Metro Bekasi Polda Metro Jaya, Kapolres Metro Jakarta Barat Polda Metro Jaya (2006), Penyidik Utama Dit. V/Tipiter Bareskrim Polri, Kapolwiltabes Semarang Polda Jateng (2009), Kadepkum Dit Akademik Akpol Lemdikpol Polri (2010), Wakapolda Sulawesi Tengah (2013), Wakapolda Maluku Utara (2013), Widyaiswara Madya Sespim Lemdikpol Polri (2013), Karorenmin Bareskrim Polri (2014), Kapolda Lampung (2015), Analis Kebijakan Utama Sahli Kapolri (2016), dan terakhir Pati Sahli Kapolri (2016).

Edward Syah Pernong tercatat dalam lembaran sejarah sebagai putera daerah Lampung yang pertama kali menjabat Kapolda Lampung. Jabatan Kapolda dan pangkat Brigadir Jenderal yang disematkan Kapolri di pundak Edward adalah pencapaian langka yang diraih seorang perwira Polri yang mengawali karir dari Sekolah Perwira, bukan dari Akademi Kepolisian.

Ditelusuri dari rekam jejaknya, setidaknya dari sejumlah peristiwa kriminalitas menonjol yang mewarnai perjalanan hidup Edward Syah Pernong, dapat dikenali kepribadian dan kepemimpinannya selama mendedikasikan hidup untuk bangsa dan negara sebagai penegak hukum, pemelihara ketertiban dan keamanan masyarakat. Sementara itu, lewat berbagai peristiwa bersejarah dan beragam kegiatan adat budaya yang menggenapi pergumulan hidupnya sebagai Sultan Kepaksian Pernong di Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak, Lampung, tergambar peran dan kontribusi Edward Syah Pernong pada persatuan dan kesatuan bangsa melalui pendekatan budaya, serta pemeliharaan dan pengembangan adat budaya Lampung sebagai bagian dari warisan budaya Nusantara.

 

Tragedi Bekasi dan Penghargaan Pak Harto

Bekasi, 24 Juli 1995. Sekitar pukul 03.30 Wib dinihari, sebuah peristiwa perampokan disertai pemerkosaan sadis menimpa keluarga Acan (45) warga Kampung Cimatis, Desa Jatikarya, Kecamatan Perwakilan Jatisari, Bekasi. Dalam peristiwa ini, kerugian materi yang diderita keluarga Acan hanya dua gram kalung emas, namun yang memiriskan dan menyita perhatian publik adalah aksi sadis sepuluh perampok memerkosa secara bergilir istri dan dua anak gadis Acan yang berusia 14 dan 15 tahun. Kasus ini menjadi berita utama media nasional; koran, televisi, dan radio. Emosi masyarakat meluap, antara sedih yang mendalam sekaligus amarah yang memuncak.

Menyikapi kejahatan sadis itu, Polres Metro Bekasi bertindak cepat. Sejak kesempatan pertama mendapat informasi kejadian, Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi AKP Edward Syah Pernong bersama jajarannya langsung terjun ke tempat kejadian perkara (TKP). Edward bersama timnya bekerja keras mengungkap pelaku, mulai dari olah TKP, penyelidikan hingga pengembangan.

Dalam waktu sebelas hari, tim yang dipimpin langsung oleh Edward berhasil mengungkap, menangkap dan melumpuhkan para pelaku.
Kasus ini rupanya mendapat atensi khusus Presiden Soeharto, yang dikenal sebagai Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan yang mengutamakan keamanan dan kenyamanan hidup rakyatnya. Pak Harto mengapresiasi keberhasilan Edward Syah Pernong mengungkap kasus kejahatan sadis yang menimpa keluarga Acan dalam waktu singkat. Sebagai bentuk penghargaan, Presiden memanggil Edward ke Istana Negara dan menyematkan Lencana Adhi Satya Bhakti di dada perwira Polri berprestasi itu.

 

Penangkapan Robot Gedek, Pelaku Sodomi dan Pembunuhan 10 Bocah

Kasus berikutnya yang menarik perhatian publik dan melambungkan nama Edward Syah Pernong adalah penangkapan Siswanto alias Robot Gedek, pelaku sodomi dan pembunuhan 10 bocah laki-laki di Jakarta dan Jawa Tengah sepanjang 1994-1996. Siswanto, pria kelahiran Ketandan, Batang, Jawa Tengah yang sejak umur empat tahun telah menjadi anak jalanan di Jakarta ini dikenal sebagai Robot Gedek karena perilakunya setiap berjalan kerap kali menggoyang-goyangkan kepala. Kesehariannya adalah pemulung dan gelandangan.

Dalam menjalankan aksi sodomi dan membunuh para bocah, Robot Gedek terbilang sangat sadis. Mula-mula ia mendekati dan membujuk korban dengan berbagai cara, antara lain; memberi uang jajan seribu atau dua ribu, mengajak mereka bermain dingdong, atau mentraktir makan. Setelah terbujuk, ia kemudian mengajak korban ke tempat sepi, lalu melakukan sodomi. Usai memuaskan nafsu seksualnya, ia menghabisi nyawa korban dengan menjerat leher si bocah dengan tali raffia, menyayat perut korban yang sudah tak bernyawa dengan silet, dan kemudian menghisap darah bocah itu.

Baca Juga :  Disporapar Kota Metro Gencarkan Pagelaran Virtual

Robort Gedek mengaku syahwat seksualnya terpuaskan dengan mensodomi para bocah. Ia sama sekali tidak merasa bersalah, bahkan tidak takut masuk penjara, apalagi dosa. Kepada polisi, ia mengaku perbuatan itu dilakukan demi kepuasaan seks semata. Bila dalam sebulan tidak melakukan sodomi, ia merasakan sakit kepala.

 

Kejahatan Robot Gedek sangat meresahkan masyarakat, terutama para orang tua. Tim Reskrim di bawah pimpinan Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat AKP Edward Syah Pernong menyelidiki keberadaan Robot Gedek, dan berhasil menangkapnya di Stasiun KA Tegal pada Sabtu, 27 Juli 1996. Dalam pemeriksaan polisi, ia mengaku jumlah korban yang telah disodomi lalu dibunuh mencapai delapan anak jalanan yang berusia antara 11-15 tahun dan dilakukan selama dua tahun di Jakarta dan dua lagi di Jawa Tengah (Kroya dan Pekalongan).

Kisah yang lebih mengerikan tentang aksi sadis Robot Gedek terungkap dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tahun 1997. Di hadapan majelis hakim yang dipimpin hakim Sartono, seorang pria predator lainnya bernama Babeh, mengaku melihat Robot Gedek menggandeng seorang anak laki-laki di Pasar Jiung, Kemayoran. Anak tersebut dibawa Robot Gedek ke semak-semak. Sementara itu, Babeh menunggu giliran mendapat kesempatan untuk melecehkan bocah lelaki yang dibawa Robot Gedek. Babeh menunggu satu jam dan setelah itu mendekati lokasi Robot Gedek. Di lokasi itu, dia menyaksikan Robot Gedek memutilasi korbannya.

Robot Gedek divonis hukuman mati pada 21 Mei 1997. Namun eksekusi hukuman mati gagal dilakukan karena ia meninggal dunia di RSUD Cilacap setelah terkena serangan jantung pada 26 Maret 2007, sehari sebelum pelaksanaan eksekusi.

Bekuk 2 Teroris Jaringan Hambali, Gagalkan Rencana Peledakkan 11 Gereja

Salahsatu tantangan berat dalam karir Edward Syah Pernong di kepolisian adalah pengejaran dan penangkapan pelaku peledakan bom Antapani Bandung, Desember 2000, semasa ia menjabat Kasat Reskrim Polwiltabes Bandung. Ketika itu, kelompok teroris pimpinan Iqballuzaman alias Iqbal berencana meledakkan 11 gereja pada malam Natal di Kota Bandung.

Iqbal selaku koordinator menerima dana sebesar 25.000 ringgit dari Encep Nurjaman alias Ridwan Isamudin alias Hambali, untuk biaya operasi pengeboman 11 gereja di Kota Bandung. Hambali adalah penduduk Cianjur yang bermukim di Malaysia dan menjadi otak dari rangkaian pemboman di berbagai lokasi di Indonesia, termasuk bom Bali dan Hotel JW Marriot pada tahun 2003. Hambali kini ditahan di penjara Guantanamo.

 

Setelah menerima dana dari Hambali, beberapa jam menjelang malam Natal, Iqbal memerintahkan enam anak buahnya yakni Enjang alias Jabir, Akim, Dedi, Wawan, Roni Miliar dan Agus Kurniawan untuk merakit bom di rumah bengkel las milik H. Aceng Suhari (57) di Jl. Terusan Jalan Jakarta 43-45. Selanjutnya Iqbal menentukan lokasi gereja yang menjadi target pengeboman yang direncakan dilakukan pada hari itu pukul 18.00.

Namun, sebelum aksi pengeboman terlaksana, bom yang sedang mereka rakit meledak pada pukul 16:15 di kediaman Aceng. Ledakan itu mengakibatkan Enjang, Akim, Wawan dan Dedi meninggal seketika dengan kondisi mengenaskan. Sedangkan Roni Miliar dan Agus Kurniawan mengalami luka berat sehingga harus dirawat di rumah sakit selama satu bulan. Sementara Iqbal dan Aceng, dua tokoh utama dalam rencana aksi pengemboman gereja, melarikan diri menghindari pengejaran polisi.

Kendati bom yang hendak mereka gunakan untuk aksi pengeboman 11 gereja lebih dulu meledak saat dirakit, rencana pengeboman sangat mungkin terjadi di waktu dan lokasi berbeda jika Iqbal cs tidak segera disergap. Karena itu, tim Polwiltabes Bandung di bawah kendali Kasat Reskrim AKBP Edward Syah Pernong dan Kasat Intelkam AKBP Drs. Muktiono (kini menjabat Kapolda Sulawesi Selatan) bergerak cepat memburu Iqbal dan Aceng.

Setelah tiga minggu bekerja keras menyelidiki pergerakan Aceng dan Iqbal, akhirnya polisi menangkap kedua tersangka pada 16 Januari 2001 di sebuah rumah persembunyian di Desa Bentarsari, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Dari keduanya, polisi mengetahui rencana mereka meledakkan 11 gereja di Kota Bandung. Beruntung polisi menangkap Aceng dan Iqbal, sehingga rencana tersebut berhasil digagalkan.

Keberhasilan Edward bersama Muktiono menangkap Aceng dan Iqbal mendapat apresiasi pimpinan Polri, dan mengantar Edward Syah Pernong menduduki posisi strategis sebagai Kapolres Bandung Tengah.

 

 

  Pada November 2006, Edward kembali menyita perhatian publik ketika menangkap           Hercules dan 117 lebih anak buahnya yang menduduki areal di Perumahan Citra Garden   6, Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat. Hercules telanjur dikenal sebagai sosok preman   sekaligus pemimpin para preman yang “ditakuti”, setidaknya di kawasan Jakarta dan      sekitarnya. Warga kerap dibuat resah atas kejahatan kelompok Hercules. Edward Syah

Nyali” yang Membuat Hercules cs Bertekuk Lutut

Pernong sebagai Kapolres Metro Jakarta Barat geram atas aksi kejahatan Hercules dkk yang tak pernah jera.

“Bubarkan atau tangkapi mereka semua. Tak ada cerita preman bikin kacau di Jakarta,” tegas Edward saat membriefing anak buahnya. Tak sekadar memerintah, Edward memimpin langsung dua peleton (60 personil) polisi bersenjata laras panjang untuk menangkap kelompok Hercules.

Baca Juga :  Pekan Literasi Lampung Barat Siap Digelar

MENGHADAPAI SIKAP TEGAS EDWARD, HERCULES CS SAMA SEKALI TAK BERKUTIK. HERCULES DAN ANAK BUAHNYA DIANGKUT DENGAN TRUK-TRUK DAN BUS POLISI DILAPISI TRALIS BERCAT HITAM.
Dari pengalaman ini, Edward meninggalkan warisan inspirasi dan keteladanan kepada para polisi penerus perjuangan dan kepemimpinannya,”Sebenarnya penangkapan Hercules bersama 117 anak buahnya bagi saya adalah case biasa. Bukan case istimewa. Anggota yang saya kerahkan juga tidak banyak. Hanya dua peleton (60 orang). Jadi heboh karena dibesar-besarkan oleh media. Tapi memang harus punya nyali karena polisi sering berhadapan dengan situasi yang tidak terprediksi, seketika, dan harus mengambil keputusan dalam waktu singkat. Naluri polisi lah yang membentuk pola harus bertindak sesuai keadaan di lapangan. Dan itu hanya bisa dilakukan orang-orang yang punya nyali,” tutur Edward.

 

Cegah Konflik SARA dalam Penanganan Kasus Syekh Puji

Ketika menjabat Kepala Polwiltabes Semarang, Edward Syah Pernong menghadapi kasus yang rumit karena rawan berkembang isu SARA dan berpotensi memicu konflik, yakni kasus Pujiono Cahyo Widianto yang dikenal sebagai Syekh Puji, tokoh agama dan pimpinan sebuah pondok pesantren di Jawa Tengah. Syekh Puji ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan sejak Senin malam 16 Maret 2009 karena menikahi siri bocah 12 tahun, Lutviana Ulfa. Ia disangka menyalahi Undang Undang Perlindungan Anak, pasal 82 dan pasal 290 KUHP mengenai Pencabulan.

Dalam menangani kasus ini, Edward menggunakan pendekatan ekstra hati hati dan cermat. Terutama menyikapi adanya kelompok-kelompok yang ingin mengadu-domba dan memancing di air keruh dengan memainkan isu SARA. Situasi yang dihadapi Edward bertambah rumit menyusul sikap Kepala Kejaksaan Negeri Semarang saat itu yang sempat menyatakan menolak pelimpahan berkas Syekh Puji karena menilai kasus tersebut bukan pidana.Untuk mencegah isu SARA berkembang menjadi konflik, Edward proaktif melakukan komunikasi intensif dengan tokoh masyarakat dan alim ulama di Jawa Tengah.

‘Pada atmosfir seperti ini, tidak cukup mengandalkan taktis dan teknis serta argumen normatif semata. Lebih dari itu dibutuhkan nyali yang besar, karena sebagai penegak hukum positif polisi tidak boleh mundur sedikit pun,’ tegas Edward.

Melalui dialog yang intensif, Edward berusaha menunjukkan profesionalisme, netralitas dan transparansi polisi dalam proses penyidikan Syekh Puji, sehingga akhirnya ulama dan masyarakat yakin bahwa penetapan tersangka dan penahanan Syekh Puji adalah murni penegakan hukum.“Kami jelaskan bahwa penindakan kepada Syekh Puji adalah tugas pokok polisi. Bukan karena masalah agama dan kepercayaan. Sehingga langkah polisi didukung oleh ulama,” jelas Edward Syah Pernong.

Sebagai muslim, Edward sebenarnya sempat merasa berat hati ketika harus menindak, menahan, dan memproses hukum Syekh Puji karena ia seorang pimpinan pondok pesantren dan Edward amat menghomati tokoh masyarakat, tokoh agama dan ulama. Namun sisi penegak hukum dalam diri Edward meyakinkannya untuk bersikap profesional.

Berkat sikap terbuka Edward kepada tokoh masyarakat dan alim ulama, polisi mendapat dukungan. Masyarakat dan ulama akhirnya memahami dan percaya langkah penegakan hukum obyektif yang diambil polisi terhadap Syekh Puji, kemudian muncul rasa saling penegertian dan kesepahaman antara polisi dan ulama, sehingga ketika polisi melakukan langkah asertif berupa penahanan Syekh Puji, tidak ada reaksi resisten yang muncul dan menghambat proses penegakan hukum oleh polisi.  Kasus Syekh Puji akhirnya bergulir, mulai dari penyidikan ke penuntutan hingga vonis di pengadilan.

“Sebagai Kapolwiltabes Semarang saat itu, saya sangat menekankan integritas. Untuk meredam potensi konflik SARA, amat penting menjaga integritas. Dalam hal menjaga integritas haruslah disertai keberanian mengambil keputusan meski riskan. Kemudian didukung kehandalan berkomunikasi dalam meyakinkan masyarakat, sehingga masyarakat melihat fakta dan kemudian percaya serta mendukung penegakan hukum yang dilakukan oleh Polri,” imbuh Edward Syah Pernong.

Berantas Narkoba di Tanah Leluhur

 

Salahsatu misi yang diemban Edward Syah Pernong ketika menjabat Kapolda Lampung adalah membersihkan bumi Lampung, tanah warisan leluhur nenek moyangnya, dari penyebaran narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba).

Wajar jika pemberantasan narkoba menjadi prioritas Edward karena penyebarannya di Lampung sudah sampai pada tingkat memprihatinkan, dari sebelumnya hanya di kota kini merajalela hingga tingkat desa dan menjangkau remaja, pelajar, dan pemuda. Dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh narkoba sudah tak terbilang, dari kegagalan studi, kehilangan jati diri, hingga munculnya beragam bentuk kriminalitas.

Pernyataan perang terhadap narkoba diwujudkan Edward dalam bentuk aksi pemberantasan secara cepat, tepat dan terukur. Hasilnya, dari operasi yang digelar selama tiga bulan (April-Juni 2015), Polda Lampung di bawah kepemimpinan Edward berhasil mengungkap 220 kasus narkoba dan menangkap 324 tersangka penyalahgunaan narkoba. Polda lampung menyita berbagai barang bukti; ganja sebanyak 302,9 Kg, sabu-sabu sebanyak 18.216,7 Kg dan ekstasi 448 butir. Dalam hal ini, kasus tertinggi adalah pemilikan sabu sebayak 18.216,7 Kg bernilai sekitar Rp 30 miliar.

Prestasi Edward Syah Pernong sebagai Kapolda Lampung dalam pemberantasan narkoba patut diapresiasi. Mengingat, dari segi jumlah, baik jumlah kasus, jumlah tersangka, jumlah barang bukti, maupun nilai barang bukti yang disita sangat signifikan. Mewakili 60 persen kasus penyalahgunaan narkoba di Lampung dan menggambarkan tingginya angka kejahatan penyalahgunaan narkoba di Lampung.

Kendati terbilang sukses memimpin Polda Lampung, terutama dengan prestasi pemberantasan narkoba, karakter Edward yang rendah hati tak luntur. Ia mengganggap pencapainnya sebagai Kapolda adalah hasil kerja keras seluruh jajaran Polda Lampung.

“Sebagai pimpinan Polda Lampung, saya sangat berterima kasih kepada satuan tugas yang telah bekerja secara maksimal. Semua ini berkat kerja keras jajaran Polda Lampung. Bisa dipastikan, selama ada kejahatan, disitu juga ada Satgas untuk memberantasnya,” tutur Edwar Syah Pernong.

Baca Juga :  Irjen Pol Dang Gusti Ike Edwin Perdana Mentri Kerajaan Skala Brak

 

Merekatkan Persaudaraan di Tengah Ancaman Perpecahan

Sebagai Sultan pewaris takhta Kepaksian Pernong Kerajaan Adat Skala Brak, Lampung, yang berdiri sejak abad ke-12 masehi, Edward Syah Pernong menaruh perhatian mendalam tentang nilai-nilai adat dan kebudayaan yang menciptakan harmoni dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, sejak dikukuhkan sebagai Sultan pada 19 Mei 1989 hingga menjelang usia 60 tahun, Edward tak pernah berhenti mengupayakan penerapan nilai-nilai budaya Lampung di tengah-tengah dinamika kehidupan masyarakat multi etnis, budaya, dan agama.

 

Pangeran Edward Syah Pernong

bersama Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo pada momen Pagelaran Seni Batak, Minggu 3 September 2017.

Ia bertekad meneruskan adat istiadat yang diterimanya turun-temurun dari nenek moyang, dengan menekankan pada prinsip persatuan dan kesatuan di tengah perbedaan yang kerap mengancam perpecahan. “Lampung itu satu. Saya sepakat dengan pendapat kaum muda pemerhati dan pecinta Lampung bahwa Lampung itu ‘Sang Bumi Lampung’, bukan ‘Sang Bumi Ruwa Jurai’. Ini yang perlu diarusutamakan,” tutur Edward, suatu ketika.

Edward mengajak masyarakat meluruskan pemahaman tentang budaya Lampung. Bagi Edward, sistem nilai dalam kultur Lampung itu satu, yakni Pepadun.

 

“Masyarakat Lampung hanya memiliki satu budaya, yaitu Pepadun. Namun, ada dua tradisi yang mengkristal; Pepadun hidup dengan sistem nilai yang kental demokratis, Saibatin cenderung aristokratis. Kita harus meninjau dari sudut geografis bahwa Pepadun yang sarat nilai kepenyimbangan merupakan sistem masyarakat adat yang hidup di bagian tengah provinsi ini. Sedangkan Saibatin adalah sistem komunitas adat yang hidup di bagian pesisir Lampung,” jelas Edward.

 

Sultan Skala Brak ke-23 Pangeran Edward Syah Pernong berkisah tentang sosok almarhum Tarmizi Tanjungan, saudara angkat Kesultanan Skala Brak dari suku Tionghoa. (Sumber: Lampost.co)

Edward menuturkan, ia berupaya selalu hadir memenuhi undangan keluarga besar Lampung, baik dari komunitas Pepadun maupun Saibatin, sebagai wujud kedekatan hubungan persaudaraan.

“Pepadun dan Saibatin bersinergi sebagai saudara dalam membangun peradaban Lampung yang satu dan kokoh. Kita bersaudara acak angken jak tutukh. Artinya, rasa persaudaraan itulah nilai budaya Lampung yang paling tinggi,” imbuh Edward.

 

Menjalin persaudaraan dengan Walikota Bandung Ridwan Kamil mewakili keluarga dari suku Sunda.

Bagi Edward, nilai-nilai persaudaraan orang Lampung yang agung bukan semata berlaku untuk sesama suku Lampung. Sebaliknya justru bersifat universal dan berlaku untuk semua orang, apa pun suku bangsa, adat budaya, agama, dan warna kulitnya.

Karena itu, bukan tanpa alasan jika Edward kerap mengadakan prosesi adat Lampung untuk mengangkat saudara dari suku Bali, Jawa, Batak, Tionghoa, dan lain-lain. Prosesi adat Lampung mengangkat saudara dari berbagai suku bangsa kerap digelar oleh Edward sebagai Sultan Kerajaan Adat Skala Brak, Lampung, untuk mempererat hubungan persaudaran, memelihara persatuan dan kesatuan sebagai sesama putera-puteri bangsa Indonesia.

 

SPDB Pangeran Edward Syah Pernong gelar Sultan Skala Brak Yang Dipertuan ke-XXIII bersama Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon menuju tempat perhelatan Kirab Agung Kerajaan dalam Asian Africa Carnival, Bandung (13/5/2017). (Foto: Saliwa/Humas Kepaksian)

Upaya Edwar Syah Pernong mempererat persaudaraan melalui pendekatan budaya menjadi oase di tengah derasnya gempuran informasi berita bohong (hoax), hujatan, fitnah, dan propaganda di media sosial dan di masyarakat yang berpotensi memicu perpecahan dan mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Berbincang singkat dengan Presiden Jokowi di panggung Festival Keraton Nusantara 2017.

Menolak Dicalonkan sebagai Gubernur Lampung

Pada 27 Juni 2018 mendatang Provinsi Lampung akan menggelar pesta demokrasi pemilihan Gubernur. Satu di antara tokoh yang santer diusung masyarakat untuk maju sebagai calon Gubernur Lampung adalah Brigjen Pol (Purn.) Drs. Edward Syah Pernong, SH, MH. Namanya kerap diperbincangkan masyarakat sebagai sosok yang layak memimpin pemerintahan dan pembangunan Provinsi Lampung, mengingat pengalaman, prestasi, dan dedikasinya selama bertugas di kepolisian dan selama mengemban amanah sebagai Sultan Kepaksian Pernong Kerajaan Adat Skala Brak, Lampung.

Namun, di luar dugaan, Edward justru menolak dengan tegas pencalonan dirinya sebagai Gubernur Lampung. “Saya nggak ada kaitan dengan politik praktis. Saya hanya senang bercengkerama dengan masyarakat, budayanya itu. Betul-betul nggak ada (kaitan politik), bukan lain omongan lain perbuatan,” tutur Edward Syah Pernong, kepada sejumlah wartawan usai menghadiri peresmian Bedah Rumah, di Jalan Enggano II, RT/RW 45/10 Kelurahan Ganjar Asri, Metro Barat, Jum’at (8/9/2017).

 

Edward memastikan, ia akan memberikan dukungannya khusus kepada calon yang dinilai amanah dan dapat memberikan perubahan yang terbaik bagi pembangunan Lampung. “Ya kita akan berikan dukungan kepada yang terbaik. Orang yang bisa amanah dan bisa menyejahterakan rakyat lampung,” jelas Edward.

Menyikapi perbedaan pandangan dan pilihan politik orang Lampung, Edward mengemukakan prinsip yang menjadi pegangan hidupnya, “Sudah saatnya politik justru menyatukan kita. Minimal dengan membuka ruang komunikasi dalam hubungan silaturahmi yang egalitarian, tapi terbuka dan saling menghargai serta lebih proporsional. Sebab amat rugi kita karena urusan politik, orang lain yang punya kepentingan tapi kita yang justru pecah-belah. Itu jangan sampai terjadi,” tutur Edward, di kesempatan lain.

Menurut Edward, politik orang Lampung sejatinya adalah politik yang beradab. Artinya ada pakem berupa budaya politik yang saling menghargai. Seperti kata Cicero,’Sampai mati aku tidak sependapat denganmu, tapi aku pertahankan mati-matian agar pendapatmu disuarakan dengan baik.*Ch-red*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here